NARASITODAY.COM, TANJUNG VERDE – Kapal pesiar mewah MV Hondius yang seharusnya menjadi tempat liburan impian, kini berubah menjadi penjara terapung di tengah luasnya Samudra Atlantik. Sebanyak 149 jiwa di dalamnya kini terisolasi di lepas pantai Tanjung Verde setelah otoritas setempat menutup pintu rapat-rapat bagi kapal tersebut untuk berlabuh.
Langkah drastis ini diambil menyusul kematian tiga orang penumpang akibat dugaan wabah Hantavirus virus mematikan yang disebarkan melalui hewan pengerat dan menyerang organ vital seperti paru-paru serta ginjal.
Sunyi di Balik Jendela Kabin
Keriuhan di dek kapal kini berganti dengan kesunyian yang mencekam. Para penumpang yang berasal dari Inggris, Spanyol, dan Amerika Serikat, serta awak kapal asal Filipina, kini diwajibkan mengurung diri di dalam kabin masing-masing.
Pihak operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyatakan bahwa protokol kesehatan paling ketat sedang diberlakukan demi memutus rantai penularan.
“Para penumpang di kapal berada di bawah langkah-langkah pencegahan ketat,” kata Oceanwide Expeditions dalam pernyataan resminya, Selasa (5/5/2026). Langkah tersebut mencakup isolasi total, protokol kebersihan yang intensif, hingga pemantauan medis rutin.
Kabar baiknya, sejauh ini belum ditemukan adanya gejala baru di antara penghuni kapal lainnya. Hal ini dikonfirmasi oleh Direktur Kesiapan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove.
“Saat ini, tidak ada orang lain yang menunjukkan gejala di kapal, tetapi ini sedang dipantau dengan cermat. Para penumpang diminta untuk tetap berada di kabin mereka dan membatasi risiko mereka sementara disinfeksi dan langkah-langkah lain sedang dilakukan,” ujar Maria melalui sebuah pesan video.
Meski WHO Eropa menilai risiko bagi masyarakat luas masih tergolong rendah, ketidakpastian menciptakan tekanan mental yang hebat bagi mereka yang terjebak di tengah laut. Jake Rosmarin, salah satu penumpang, membagikan keresahannya melalui media sosial.
Di balik layar ponselnya, Jake menggambarkan suasana yang jauh dari kata mewah. Kebosanan dan rasa takut bercampur aduk menjadi satu.
“Apa yang terjadi saat ini sangat nyata bagi kita semua di sini. Ada banyak ketidakpastian dan itulah bagian tersulitnya. Yang kami inginkan saat ini hanyalah merasa aman, memiliki kejelasan, dan pulang,” tulis Jake di akun Instagram-nya.
Jejak Tragedi dan Harapan di Canary
Tragedi ini bermula dari kematian seorang pria asal Belanda di atas kapal pada 11 April lalu. Disusul istrinya yang meninggal pada 27 April di Afrika Selatan setelah sebelumnya turun untuk menemani jenazah sang suami. Teranyar, pada Sabtu lalu, seorang warga negara Jerman turut menghembuskan napas terakhirnya di atas kapal.
Saat ini, fokus penyelamatan mulai beralih ke Kepulauan Canary, Spanyol, yang dipertimbangkan sebagai lokasi pendaratan untuk penanganan medis lebih lanjut. Sementara itu, otoritas Tanjung Verde masih menunggu “lampu hijau” dari Belanda dan Inggris terkait permintaan ambulans udara bagi para penumpang yang ingin segera dievakuasi.
Hingga bantuan itu datang, MV Hondius tetap akan menjadi titik putih yang terombang-ambing di cakrawala, membawa ratusan orang yang merindukan daratan dan rasa aman.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














