Pemkab Bogor Wujudkan Desa Berbudaya Hemat Pangan Lewat Inovasi Teknologi Ngupahan yang Melibatkan Seluruh Elemen Masyarakat

0
Ngupahan
Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor di Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat dalam mengelola sisa pangan berbasis digital.Foto : dok.Diskominfo Kabupaten Bogor

NARASITODAY.COM,BOGOR – Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Ketahanan Pangan (DKP) memperkenalkan inovasi “Ngupahan”, sebuah sistem pengelolaan sisa pangan (food waste) berbasis digital yang dirancang untuk membangun kesadaran dan budaya masyarakat agar tidak boros pangan.

Ngupahan” merupakan konsep pengelolaan sisa pangan, baik yang masih layak konsumsi (edible food waste) maupun yang tidak layak (inedible food waste), melalui pendekatan ekonomi sirkular yang terintegrasi dalam sebuah aplikasi. Sistem ini menghubungkan masyarakat, komunitas, hingga kelembagaan desa dalam satu ekosistem digital yang terukur dan partisipatif.

Tujuan utama Ngupahan adalah mengubah pola perilaku masyarakat dalam mengelola pangan, mulai dari mencegah sisa makanan, memanfaatkan kelebihan pangan, hingga mengelola sampah organik langsung dari sumbernya.

Baca Juga :  Buku Integrasi Kearifan Lokal Diluncurkan di Jasinga, Dorong Inovasi Pendidikan Berbasis Budaya

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga pelaku utama dalam pengurangan pemborosan pangan.

Kepala DKP Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan food waste terletak pada perubahan budaya masyarakat.

“Kita ingin membangun budaya, agar masyarakat terbiasa tidak boros pangan dan mampu mengelola sisa makanan dengan bijak. Ini bukan hanya soal sampah, tetapi soal kesadaran bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui pemanfaatan teknologi digital, perubahan perilaku tersebut dapat dibangun secara bertahap dan terukur.

“Kita dorong masyarakat untuk terlibat aktif, mulai dari memilah, memanfaatkan, hingga mengelola sisa pangan. Semua itu tercatat dalam sistem, sehingga ada edukasi sekaligus motivasi melalui insentif,” tambahnya.

Dalam implementasinya, Ngupahan menghadirkan sejumlah fitur utama seperti Pojok Edukasi, Piring Berbagi, Bank Kompos, dan Berdikari Mart. Fitur-fitur ini tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mengurangi pemborosan pangan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari pengelolaan sampah.

Baca Juga :  Harga BBM Non-Subsidi di Pertamina Tetap Stabil Per 1 April 2026, Masyarakat Diminta Cerdas Mengelola Informasi

Sebagai langkah awal, inovasi ini akan diterapkan di dua desa, yakni Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri dan Desa Susukan, Kecamatan Bojonggede. Kedua wilayah ini diharapkan menjadi percontohan dalam membangun budaya masyarakat yang lebih peduli terhadap pangan dan lingkungan.

Camat Gunung Putri, Kurnia Indra, menyambut baik implementasi inovasi tersebut dan menyatakan kesiapan wilayahnya untuk mendukung penuh.

“Pada prinsipnya kami mendukung dan siap. Desa Gunung Putri saat ini juga sedang berbenah dan sejalan dengan arahan Bupati untuk menjadi desa percontohan. Mudah-mudahan program ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun kesadaran masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kasus Reaktif HIV dan Sifilis Muncul dari Razia Pesta LGBT, Dinkes Bogor Siapkan Penanganan

Ia juga menekankan pentingnya komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dalam membangun perubahan perilaku, khususnya dalam pengelolaan pangan dan sampah.

“Yang paling penting adalah komitmen kita bersama. Dengan kolaborasi yang baik, kita optimistis upaya membangun budaya tidak boros pangan ini bisa berjalan maksimal,” tambahnya.

Melalui Ngupahan, Pemerintah Kabupaten Bogor berharap terbentuk kesadaran kolektif bahwa pangan adalah sumber daya berharga yang harus dijaga, bukan diboroskan.

Dengan dukungan teknologi dan partisipasi masyarakat, langkah ini diharapkan mampu menekan food waste sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan.***

Editor : Alysa

Sumber : Diskominfo Kabupaten Bogor