NARASITODAY.COM, MEXICO CITY – Di balik kemegahan arsitektur kolonial dan hiruk-pikuk 22 juta penduduknya, Mexico City tengah berjuang melawan takdir geografisnya. Citra satelit terbaru dari NASA mengungkapkan fakta mengejutkan yaitu ibu kota Meksiko ini tenggelam dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan, menjadikannya salah satu kota dengan penurunan permukaan tanah tercepat di dunia.
Laporan CNN International yang dirilis Rabu (6/5/2026) menyebutkan bahwa sistem radar canggih NASA mendeteksi penurunan tanah lebih dari 0,5 inci per bulan. Bahkan, data terbaru dari satelit NISAR—proyek kolaborasi NASA dan Organisasi Penelitian Antariksa India—menunjukkan angka yang lebih ekstrem di beberapa titik.
“Antara Oktober 2025 hingga Januari 2026, NISAR memetakan pergerakan tanah. Temuannya mengungkapkan bahwa sebagian kota tenggelam sekitar 0,8 inci per bulan itu setara dengan lebih dari 9,5 inci (sekitar 24 cm) setiap tahunnya,” tulis laporan tersebut.
Warisan Danau Kuno yang Haus
Penurunan ini bukan tanpa alasan. Mexico City berdiri di atas danau dataran tinggi dan akuifer kuno. Selama puluhan tahun, akuifer ini diperas habis-habisan untuk memenuhi 60% kebutuhan air minum warga. Akibatnya, tanah lempung di atasnya kehilangan tekanan dan mulai ambles di bawah beban pembangunan perkotaan yang masif.
Kondisi ini membawa kota menuju ancaman “Day Zero” atau potensi air nol, di mana keran-keran warga benar-benar akan mengering.
Dampaknya kini bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan pemandangan sehari-hari yang pahit. Jalan-jalan retak menyerupai jaring laba-laba, bangunan mulai miring secara permanen, dan sistem kereta api terus mengalami kerusakan struktur.
Salah satu bukti bisu paling nyata adalah Monumen Malaikat Kemerdekaan (El Ángel). Monumen setinggi 114 kaki yang dibangun pada 1910 ini seolah-olah “tumbuh” ke atas. Kenyataannya, tanah di sekitarnya lah yang merosot, memaksa pengelola menambahkan 14 anak tangga baru di dasarnya agar tetap dapat diakses.
Area vital lainnya yang terdampak parah adalah Bandara Internasional Benito Juarez, gerbang utama negara tersebut, yang kini terus dipantau karena pergeseran tanah yang agresif.
“Mexico City adalah lokasi yang terkenal rawan penurunan permukaan tanah, dan gambar seperti ini hanyalah permulaan bagi NISAR,” ujar David Bekaert, Manajer Proyek di Institut Penelitian Teknologi Flemish sekaligus anggota tim sains NISAR.
Menurut Bekaert, teknologi radar ini akan membuka mata dunia terhadap krisis serupa di berbagai belahan bumi. “Kita akan melihat banyak penemuan baru dari seluruh dunia,” tegasnya.
Bagi Mexico City, citra dari luar angkasa ini adalah peringatan terakhir. Tanpa perubahan drastis dalam manajemen air dan tata kota, salah satu kota metropolitan terbesar di dunia ini perlahan-lahan akan tertelan oleh sejarahnya sendiri yang berdiri di atas air.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














