Trump Sebut Paus Leo XIV Membahayakan Umat Katolik dengan Dukungan Iran, Apa Kata Vatikan?

0
Trump
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Foto : liputan6.com

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C.Atmosfer diplomatik antara Washington dan Vatikan mendadak memanas di tengah persiapan kunjungan kenegaraan tingkat tinggi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik pedas terhadap pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, dengan tuduhan serius terkait isu keamanan global.

Dalam sebuah wawancara dengan pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt di jaringan Salem News, Trump menuding Paus asal Chicago tersebut telah membahayakan nyawa umat Katolik. Pangkal persoalannya adalah anggapan Trump bahwa sang Pontiff mendukung kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.

Paus lebih suka berbicara tentang fakta bahwa Iran boleh memiliki senjata nuklir, dan menurut saya itu tidak terlalu bagus. Saya pikir dia membahayakan banyak umat Katolik dan banyak orang,” ujar Trump, seperti dikutip dari laporan The Guardian, Selasa (5/5/2026).

Baca Juga :  U-Ditch di Ruas Jalan Ngasuh-Cileuksa Rusak, Diduga Diurug untuk Akses Proyek

Ketegangan ini mencapai puncaknya hanya dua hari sebelum Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan menginjakkan kaki di Istana Apostolik. Trump bahkan berspekulasi mengenai sikap pribadi sang Paus. “Tetapi saya rasa jika terserah Paus, dia pikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir,” tegasnya.

Fakta di Balik Serangan Verbal

Meski Trump melancarkan serangan tajam, catatan publik menunjukkan bahwa Paus Leo XIV sejatinya tidak pernah secara eksplisit mendukung persenjataan nuklir Iran. Sebaliknya, sang Pontiff dikenal vokal menyuarakan penghentian eskalasi militer di Lebanon dan Timur Tengah melalui jalur dialog dan gencatan senjata.

Sentuhan dingin juga datang dari Wakil Presiden AS, JD Vance. Sebagai seorang mualaf Katolik, Vance memberikan saran tajam agar Vatikan tidak melampaui batas kewenangannya. “Vatikan harus tetap berpegang pada masalah moralitas dan Paus Leo harus berhati-hati ketika berbicara tentang teologi dan perang,” pungkas Vance.

Baca Juga :  Banjir Putuskan Jembatan Pasir Ipis, Akses Dua Desa di Cisarua Terisolasi

Misi Sulit Marco Rubio

Di tengah “perang urat syaraf” ini, Marco Rubio memikul beban berat untuk mendinginkan suasana. Pertemuan yang dijadwalkan pada Kamis pagi mendatang tersebut awalnya dirancang untuk merayakan satu tahun masa kepemimpinan Paus Leo XIV, namun kini berubah menjadi misi penyelamatan hubungan bilateral.

Rubio sendiri mencoba mengecilkan narasi adanya keretakan hubungan antara Trump dan Paus. “Ini adalah perjalanan yang sudah kami rencanakan sebelumnya, dan jelas kami memiliki beberapa hal yang terjadi dan tidak, lihat, ada banyak hal yang perlu dibicarakan dengan Vatikan,” tutur Rubio kepada media.

Selain urusan Takhta Suci, Rubio juga mengemban misi memperbaiki hubungan dengan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Meloni sebelumnya menjadi sasaran kritik Trump karena membela posisi Paus dan menolak mendukung agresi militer ke Iran.

Baca Juga :  Buang Air Besar Berdarah? Ini 6 Gejala Kanker Usus Besar yang Perlu Diketahui

Harapan dari Jalur Dialog

Optimisme tipis tetap dipelihara oleh Duta Besar AS untuk Takhta Suci, Brian Burch. Ia berharap pertemuan di Istana Apostolik nanti akan menjadi wadah pertukaran pikiran yang transparan.

“Bangsa-bangsa memiliki ketidaksepakatan, dan saya pikir salah satu cara Anda menyelesaikannya adalah melalui persaudaraan dan dialog otentik. Saya pikir Rubio datang ke Vatikan dalam semangat itu, untuk melakukan percakapan jujur tentang kebijakan AS, untuk terlibat dalam dialog,” ungkap Burch.

Kini, dunia menunggu apakah “dialog otentik” yang dibawa Rubio mampu meredam api perselisihan yang telah disulut oleh retorika tajam dari Gedung Putih, atau justru memperlebar jarak antara Washington dan pusat spiritual umat Katolik sedunia tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com