NARASITODAY.COM, BOGOR- Pemerintah Kabupaten Bogor mulai mematangkan rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 tahun 2026 dengan memilih Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, sebagai pusat kegiatan.
Lokasi ini dinilai tidak hanya strategis, tetapi juga sarat nilai historis bagi perjalanan awal pemerintahan Kabupaten Bogor.
Persiapan teknis digodok melalui rapat koordinasi yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah desa dan kecamatan, perangkat daerah, hingga unsur pengamanan seperti TNI, Polri, dan Satpol PP. Pertemuan tersebut berlangsung di Aula Kantor Desa Malasari, Rabu (6/5/2026).
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bogor, Zaenal Ashari, menekankan bahwa peringatan HJB bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum bersama yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor.
“Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar peringatan HJB tahun ini tidak hanya meriah, tetapi juga berdampak bagi masyarakat,” ujar Zaenal.
Rangkaian kegiatan akan terpusat di Lapangan Kampung Citalahab. Pemerintah daerah menyiapkan agenda yang memadukan unsur budaya, sejarah, dan seremoni resmi.
Pertunjukan wayang golek akan menjadi pembuka kegiatan di tingkat desa, sebagai upaya mengangkat kembali kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Sunda.
Puncak acara ditandai dengan upacara paripurna yang menjadi inti peringatan.
Selain itu, agenda ziarah ke makam pahlawan juga dijadwalkan pada 1 Juni 2026 di kawasan Pondok Rajeg sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pendahulu.
Sementara itu, puncak Hari Jadi Bogor akan berlangsung pada 3 Juni 2026. Tanggal tersebut memiliki makna historis, merujuk pada penobatan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi sebagai Raja Sunda di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482 peristiwa yang kemudian ditetapkan sebagai tonggak Hari Jadi Bogor.
Penetapan tanggal 3 Juni sebagai Hari Jadi Bogor sendiri telah disahkan melalui keputusan DPRD Kabupaten Bogor pada 26 Mei 1972.
Pemilihan Desa Malasari sebagai lokasi utama perayaan juga dilatarbelakangi nilai sejarah yang melekat pada wilayah tersebut.
Di kawasan ini terdapat jejak pendopo bupati pertama Kabupaten Bogor, Raden Ipik Gandah Manah, yang menjadi simbol awal berdirinya pemerintahan daerah.
“Melalui peringatan ini, kita ingin mengingat kembali akar sejarah Kabupaten Bogor sekaligus menghormati kontribusi para tokoh pendahulu,” kata Zaenal.
Dengan konsep yang memadukan budaya dan sejarah, peringatan HJB ke-544 diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang refleksi atas perjalanan panjang Kabupaten Bogor hingga saat ini.
Wartawan : Andreas














