NARASITODAY.COM, KIGALI – Ironi pahit menyelimuti pembebasan Aimable Karasira. Setelah bertahun-tahun mendekam di balik jeruji besi, mantan dosen Universitas Rwanda yang vokal mengkritik pemerintah itu mengembuskan napas terakhir tepat di hari ia seharusnya menghirup udara bebas, Jumat (8/5/2026).
Kematian Karasira memicu gelombang kecurigaan dan tuntutan penyelidikan independen terhadap otoritas keamanan Rwanda. Sosok yang dikenal tajam menyuarakan pendapat lewat kanal YouTube-nya ini dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan overdosis obat-obatan di dalam kompleks penjara.
Detik-Detik Terakhir yang Misterius
Layanan Pemasyarakatan Rwanda mengonfirmasi bahwa Karasira dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi obat melampaui dosis yang dianjurkan dokter. Juru bicara penjara, Hillary Sengabo, menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi saat Karasira tengah menunggu jemputan keluarga pasca-pengurusan administrasi pembebasan.
“Karasira mengalami overdosis obat kesehatan mentalnya tepat setelah ia dibebaskan tetapi masih berada di kompleks penjara menunggu dijemput oleh keluarganya,” ujar Sengabo, sebagaimana dikutip dari AFP.
Menurut Sengabo, Karasira memiliki akses terhadap obat tersebut karena proses pembebasannya sedang berlangsung. Namun, versi ini ditanggapi dengan rasa tidak percaya oleh pihak kuasa hukum.
Felicien Gashema, pengacara Karasira, mengaku sangat terpukul dan tidak menyangka kliennya akan berpulang dengan cara demikian. Pasalnya, saat mereka bertemu beberapa hari sebelumnya, Karasira tampak dalam kondisi fisik dan mental yang stabil.
“Saya terkejut,” kata Gashema singkat, menggambarkan ketidakpercayaan atas peristiwa tersebut.
Pola Kematian yang Berulang
Kematian Karasira seolah membuka kembali luka lama terkait catatan hak asasi manusia di Rwanda. Kritikus dan analis politik Louis Gitinywa menilai ada pola yang mencurigakan di balik tewasnya para penentang pemerintah saat berada dalam pengawasan otoritas.
Ia merujuk pada kasus musisi Kizito Mihigo yang ditemukan tewas di sel polisi pada 2020, serta rapper Joshua Tuyishime pada 2021 yang juga disebut meninggal akibat zat berbahaya di penjara.
“Pola-pola itu sudah ada: kematian yang tidak dapat dijelaskan, keadaan yang tidak dapat dijelaskan,” ujar Gitinywa.
Karasira sendiri ditangkap pada 2021 setelah melontarkan pernyataan sensitif bahwa tentara pemerintah turut terlibat dalam pembunuhan keluarganya pasca-genosida 1994. Pada September 2025, ia divonis lima tahun penjara atas tuduhan “menghasut perpecahan”.
Stabilitas vs Kebebasan Berpendapat
Di bawah kepemimpinan Presiden Paul Kagame, Rwanda memang dipuji dunia internasional karena berhasil bangkit dari puing-puing genosida dan menciptakan stabilitas ekonomi yang luar biasa. Namun, stabilitas itu sering kali dianggap dibayar mahal dengan pembungkaman suara-suara sumbang.
Kini, dunia internasional kembali menyoroti Kigali. Saat otoritas penjara menyatakan masih menunggu laporan medis untuk memastikan penyebab pasti kematian Karasira, desakan agar penyelidikan dilakukan oleh pihak ketiga yang independen terus mengalir deras.
Bagi para pendukungnya, Karasira meninggal di saat kakinya hampir saja melangkah keluar dari gerbang besi sebuah akhir tragis bagi seorang pria yang menggunakan layar YouTube-nya untuk menantang narasi tunggal penguasa.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













