PBB Kecam Keras Peristiwa Tragis Keluarga Asasa yang Dipaksa Gali Kembali Makam di Tengah Ketegangan

0
keluarga Asasa
Ilustrasi raung rapat PBB.Foto : liputan6.com

NARASITODAY.COM, JENINKesedihan mendalam yang menyelimuti keluarga Asasa di Tepi Barat berubah menjadi horor yang memilukan. Hanya beberapa jam setelah Hussein Asasa (80) diturunkan ke liang lahat, keluarganya dipaksa untuk menggali kembali tanah makam dan mengangkat jenazah sang ayah akibat tekanan dari kelompok pemukim dan militer Israel.

Insiden yang terjadi di Desa Asasa, dekat Jenin, pada akhir pekan lalu ini memicu gelombang kecaman internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut peristiwa ini sebagai simbol “dehumanisasi” yang semakin nyata terhadap warga Palestina.

Ancaman di Liang Lahat

Hussein Asasa meninggal dunia karena sakit pada Jumat lalu. Pihak keluarga menyatakan bahwa mereka telah mengantongi izin resmi dari otoritas keamanan Israel untuk memakamkan almarhum di pemakaman desa tersebut. Namun, prosesi suci itu diganggu oleh kedatangan sekelompok pemukim yang mengklaim lahan tersebut masuk dalam wilayah permukiman Israel.

Baca Juga :  Uya Kuya Klaim Difitnah dalam Kasus Pemerasan Skincare, Sebut Ada Oknum yang Menyerang

Putra almarhum, Mohammed Asasa, menceritakan bagaimana tekanan tersebut berubah menjadi ancaman pembongkaran paksa menggunakan alat berat jika mereka tidak segera bertindak.

“Mereka mengatakan tanah itu untuk pemukiman dan pemakaman tidak diperbolehkan. Kami katakan kepada mereka bahwa ini adalah pemakaman desa, bukan bagian dari pemukiman,” ujar Mohammed Asasa, dikutip Minggu (10/5/2026).

Pihak keluarga mengaku tidak punya pilihan lain setelah militer Israel turut berada di lokasi dan memberikan tekanan serupa. Ketakutan akan jenazah sang ayah yang akan dilindas buldoser memaksa mereka memegang kembali sekop untuk menggali tanah yang masih basah.

“Kami menemukan bahwa mereka para pemukim sudah menggali kuburan dan menemukan jenazahnya. Kami melanjutkan penggalian, mengambil jenazahnya, dan menguburkannya di pemakaman lain,” lanjut Mohammed dengan getir.

Baca Juga :  Ledakan keras di dekat kantor pemerintahan Lebanon membuat warga Beirut panik dan takut

Bantahan Militer dan Kecaman Dunia

Meski keluarga dan laporan saksi mata menyatakan adanya tekanan militer, pihak militer Israel membantah telah memerintahkan pemindahan tersebut. Mereka berdalih pasukan dikirim hanya untuk menengahi bentrokan antara warga Palestina dan para pemukim, bahkan mengklaim telah menyita alat gali milik pemukim untuk mencegah eskalasi.

Namun, pembelaan tersebut berbanding terbalik dengan kecaman keras dari kantor hak asasi manusia PBB. Ajith Sunghay, Kepala Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB untuk wilayah Palestina (OHCHR), menyebut insiden ini melampaui batas kemanusiaan.

“Ini mengerikan dan menjadi simbol dehumanisasi terhadap warga Palestina yang kami saksikan terjadi di seluruh Wilayah Palestina yang Diduduki (OPT). Tidak ada yang luput, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup,” tegas Ajith Sunghay.

Baca Juga :  Semarak Kirab Bendera Merah Putih Meriahkan HUT ke-80 RI

Eskalasi Kekerasan di Tepi Barat

Peristiwa pembongkaran makam ini terjadi di tengah atmosfer ketegangan yang mencekam di Tepi Barat sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Serangan pemukim dilaporkan semakin beringas, mulai dari pembakaran rumah dan mobil hingga serangan terhadap anak-anak di bawah umur.

Amnesty International sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa “impunitas global” telah memberi lampu hijau bagi Israel untuk memperluas pemukiman ilegal di wilayah yang seharusnya menjadi masa depan negara Palestina tersebut.

Bagi keluarga Asasa, politik pendudukan kini tak lagi hanya merampas tanah yang mereka injak, tetapi juga mengganggu ketenangan anggota keluarga yang telah beristirahat selamanya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com