Ketegangan Baru Muncul Antara AS dan Sekutu Tradisional di Tengah Ketidakpastian Perang Iran

0
Perang Iran
Ilustrasi Gedung pemerintahan resmi di kota dengan bendera Amerika berkibar tertiup angin.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,WASHINGTONTatanan global berbasis aturan yang dipimpin Amerika Serikat selama puluhan tahun kini berada di titik nadir. Di tengah bara Perang Iran yang baru saja memasuki pekan ke-10, Washington justru terjebak dalam perang dingin dengan sekutu-sekutu terdekatnya sendiri mulai dari NATO, negara-negara Teluk, hingga mitra strategis di Asia.

Langkah Presiden Donald Trump yang sulit diprediksi, mulai dari penarikan pasukan secara mendadak hingga retorika yang meremehkan serangan terhadap mitra, telah memicu guncangan hebat. Para analis menilai, “kredibilitas AS kini tengah dipertaruhkan.”

Ketegangan mencapai puncaknya di Benua Biru saat Trump memutuskan untuk menarik 5.000 tentara AS dari Jerman secara tiba-tiba. Keputusan ini menyusul perselisihan terbuka dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang secara vokal menyebut Iran telah mempermalukan Amerika Serikat.

Pentagon tidak berhenti di situ melainkan rencana penempatan rudal Tomahawk dibatalkan, dan ancaman pengurangan pasukan kini menghantui Italia serta Spanyol. Trump bahkan kembali mempertanyakan relevansi Pasal 5 NATO tentang pertahanan kolektif.

Baca Juga :  JAM MALAM PELAJAR DARI KDM SESUAI DENGAN PROGRAM KEMENDIKDASMEN

“President Trump has made his disappointment with NATO and other allies clear,” tegas juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly.

Ia menambahkan bahwa Trump tidak akan membiarkan AS dimanfaatkan oleh pihak yang ia sebut sebagai “sekutu,” terutama setelah beberapa negara Eropa menolak penggunaan pangkalan mereka untuk operasi di Iran.

Guncangan Energi dan Luka Lama

Yang paling terasa adalah dampak ekonomi yang mencekik. Serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu memicu penutupan Selat Hormuz oleh Teheran. Akibatnya, seperlima pasokan minyak dunia terputus, membuat warga di Eropa dan Asia menghadapi lonjakan biaya energi di tengah perang yang sebenarnya tidak mereka kehendaki.

Brett Bruen, mantan penasihat era Barack Obama, melihat situasi ini sebagai titik balik yang berbahaya bagi diplomasi Washington.

“Kecerobohan Trump terkait Iran mengakibatkan beberapa perubahan dramatis. Kredibilitas AS dipertaruhkan,” kata Bruen.

Baca Juga :  Le Pen Nilai Trump Salah Perhitungan Serang Iran, Sebut Rezim Teheran Sangat Kuat

Krisis Kepercayaan di Asia dan Teluk

Di Timur Tengah, sekutu dekat AS seperti Uni Emirat Arab (UEA) merasa ditinggalkan. Saat rudal dan drone Iran menghantam pelabuhan Fujairah, Trump justru menyebutnya sebagai “insiden kecil,” sebuah pernyataan yang melukai perasaan mitra Teluk yang sedang dalam kondisi darurat.

Situasi serupa terjadi di Asia. Jepang dan Korea Selatan, yang sangat bergantung pada Selat Hormuz, kini mulai ragu apakah payung keamanan AS masih bisa diandalkan jika konflik dengan China pecah di Taiwan.

Mantan Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, mengungkapkan kekhawatirannya kepada Reuters dengan nada yang sangat serius.

“Yang paling mengkhawatirkan kami adalah kepercayaan, rasa hormat, dan harapan terhadap Amerika Serikat, mitra inti dalam aliansi yang paling dihargai Jepang, telah menyusut. Hal itu bisa memberikan dampak buruk yang besar bagi seluruh wilayah,” ungkap Iwaya.

Baca Juga :  Jalan Bomang Kembali Digarap, Targetkan Buka Akses dan Kurangi Kemacetan di Bogor

Langkah Mandiri di Tengah Ketidakpastian

Sebagai respons, dunia mulai mencari jalan keluar tanpa Washington. Jepang melirik “kekuatan menengah” seperti Inggris dan Kanada, sementara Eropa mulai memperkuat industri persenjataan regional secara mandiri.

Namun, jalan menuju kemandirian strategis ini masih panjang dan terjal. Di sisi lain, Rusia dan China dilaporkan mulai memanfaatkan celah ini untuk memperkuat posisi mereka di panggung internasional, memposisikan diri sebagai mitra yang “lebih stabil” dibandingkan Gedung Putih saat ini.

Meskipun begitu, Victoria Coates dari Heritage Foundation menilai China tidak akan mudah mencuri panggung.

“Mereka sebenarnya bukanlah mitra yang kuat bagi sekutu mereka, Iran, selama ini,” ujarnya.

Kini, saat Trump bersiap mengunjungi China pekan depan, para sekutu lama Amerika hanya bisa memandang dari jauh dengan satu pertanyaan besar. Yaitu apakah Amerika Serikat masih merupakan pemimpin dunia yang bisa dipercaya?

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com