NARASITODAY.COM, BANGKOK – Sosok yang selama dua dekade menjadi magnet sekaligus titik sumbu politik Thailand, Thaksin Shinawatra, akhirnya kembali menghirup udara bebas. Pada Senin (11/5/2026), miliarder telekomunikasi berusia 76 tahun tersebut resmi meninggalkan penjara Bangkok melalui mekanisme pembebasan bersyarat, lebih awal dari masa hukuman yang seharusnya ia jalani.
Meski telah bebas, langkah mantan Perdana Menteri ini belum sepenuhnya lepas dari pantauan otoritas. Thaksin diwajibkan mengenakan alat pemantau elektronik (gelang kaki) selama masa percobaan empat bulan ke depan.
Pelukan Keluarga dan Gemuruh Kemeja Merah
Suasana di luar penjara Bangkok pagi itu berubah menjadi lautan emosi. Begitu melangkah keluar, Thaksin langsung disambut pelukan hangat anggota keluarganya. Di luar barikade, ratusan pendukung setia yang mengenakan kemeja merah warna simbolis perlawanan dan dukungannya meneriakkan yel-yel kemenangan.
Sambil melemparkan senyum tipis dan melambaikan tangan ke arah kerumunan, Thaksin tampak tenang meski memilih untuk tetap bungkam seribu bahasa saat dicegat oleh awak media. Ia segera memasuki mobil pribadi dan meninggalkan lokasi di tengah pengawalan ketat.
Kehadirannya kembali ke tengah publik memicu spekulasi besar mengenai masa depan politik Negeri Gajah Putih. Banyak yang percaya bahwa sang “Arsitek Politik” ini tidak akan sekadar duduk diam di masa tuanya.
“Saya rasa dia tidak akan meninggalkan politik. Thaksin mungkin akan absen selama beberapa bulan, namun dia tidak akan meninggalkan politik,” ujar Janthana Chaidej, seorang warga yang hadir untuk memberikan dukungan langsung.
Jejak Panjang dan Kompromi Politik
Pembebasan Thaksin merupakan babak baru dari drama hukum yang panjang. Setelah bertahun-tahun mengasingkan diri pasca-kudeta militer, ia kembali ke Thailand pada Agustus 2023 dan langsung dijatuhi hukuman delapan tahun penjara atas kasus korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan.
Namun, hukuman tersebut mengalami serangkaian “penyesuaian”. Lewat pengampunan kerajaan, masa tahannya dipangkas menjadi satu tahun. Kontroversi sempat mencuat ketika ia menghabiskan sebagian besar masa hukuman di ruang perawatan rumah sakit alih-alih di balik jeruji besi, hingga Mahkamah Agung akhirnya mengoreksi masa tahanan tersebut.
Departemen Pemasyarakatan Thailand akhirnya mengumumkan pembebasan bersyaratnya bulan lalu dengan pertimbangan faktor usia dan sisa masa hukuman yang kurang dari satu tahun.
Ancaman atau Penyelamat Tatanan?
Selama dua dekade, partai-partai di bawah naungan Thaksin telah menjadi rival terberat bagi elite pro-militer dan pro-kerajaan. Bagi pendukung di wilayah pedesaan, ia adalah pahlawan yang membawa kesejahteraan; namun bagi kelompok tradisionalis, ia dianggap sebagai ancaman bagi tatanan sosial mapan.
Kini, dengan bergabungnya Partai Pheu Thai ke dalam koalisi pemerintahan pimpinan PM Anutin Charnvirakul, kebebasan Thaksin diyakini akan menjadi katalisator bagi kebangkitan kembali kekuatan politik keluarga Shinawatra. Thailand kini menanti, apakah kepulangan sang tokoh senior ini akan membawa stabilitas baru atau justru memantik kembali bara persaingan lama.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














