Perdana Menteri India Narendra Modi Serukan Pengurangan Konsumsi Bahan Bakar di Tengah Ketegangan Timur Tengah

0
Perdana Menteri
Perdana Menteri India Narendra Modi.Foto : news.ddtc.co.id

NARASITODAY.COM, HYDERABADKetegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kini bukan lagi sekadar isu di meja diplomasi bagi warga India, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas dapur dan ekonomi nasional. Perdana Menteri Narendra Modi mengeluarkan imbauan keras kepada rakyatnya untuk segera mengubah gaya hidup demi menyelamatkan perekonomian negara dari hantaman guncangan energi global.

Dalam pidato publik yang sarat akan nada urgensi di kota Hyderabad, Minggu (10/5/2026), Modi meminta warga untuk melakukan langkah-langkah drastis yaitu mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM), menunda perjalanan ke luar negeri, hingga mengerem pembelian emas.

“Biaya bahan bakar global telah melonjak,” kata Modi seraya mengimbau warga untuk mulai beralih menggunakan transportasi umum, berbagi kendaraan (carpooling), hingga bekerja dari rumah (work from home) demi menghemat setiap tetes bahan bakar.

Baca Juga :  Makna Tersembunyi dalam Lirik 'Semua Terlihat di Saat Terlambat' oleh The Dramma

Pertaruhan Cadangan Devisa

Bagi India, penghematan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Sebagai negara yang mengimpor hampir 85% kebutuhan energinya, ketergantungan India terhadap Selat Hormuz sangatlah vital mencakup 50% impor minyak mentah dan 60% gas alam cair (LNG).

Loncatan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah telah memberikan tekanan hebat pada tagihan impor negara. Modi menegaskan bahwa gaya hidup konsumtif terhadap barang impor dapat menguras cadangan devisa negara di saat yang paling kritis.

“Pengurangan perjalanan luar negeri dan impor emas akan membantu menghemat cadangan devisa karena kenaikan harga minyak meningkatkan tekanan pada tagihan impor India,” tegas Modi sebagaimana dilansir dari CNBC International.

Rupee Melemah, Ekonomi Melambat

Data menunjukkan betapa besar beban yang dipikul India. Pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, negara ini telah menggelontorkan dana fantastis sebesar US$174,9 miliar (sekitar Rp2.798 triliun) hanya untuk minyak dan produk petroleum. Belum lagi kecintaan warga India terhadap emas yang menempatkan negara ini sebagai pembeli emas terbesar kedua di dunia dengan nilai impor mencapai US$72 miliar.

Baca Juga :  Otorita IKN Teken Tiga PKS Investasi Baru, Total Rp72 Triliun Dorong Ekosistem Nusantara

Kombinasi kenaikan harga energi dan tingginya impor barang mewah mulai merongrong mata uang Rupee yang kini diperdagangkan mendekati titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS. Analis dari UBS Securities bahkan telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India untuk tahun fiskal mendatang menjadi 6,2% dari sebelumnya 6,7%.

“Konflik Timur Tengah merupakan guncangan energi yang sangat besar secara historis dengan risiko makro asimetris,” tulis UBS Securities dalam catatan analisisnya.

Masa Sulit di Depan Mata

Baca Juga :  ‎Di Balik Rehabilitasi Paksa Rujukan Proses Hukum, Air Mata Ibu Utang Keluarga ‎dan Harapan pada Negara

Meski pemerintah sejauh ini masih berupaya menjaga harga BBM di SPBU tetap stabil dengan cara memotong pajak, para pakar memperingatkan bahwa daya tahan fiskal ini ada batasnya.

Mantan duta besar India untuk AS, Nirupama Rao, menyatakan bahwa meski guncangan hebat mungkin tidak terjadi seketika, India dipastikan menghadapi “masa-masa sulit di depan” selama krisis di Timur Tengah belum menemui titik damai.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Penasihat Ekonomi India, V. Anantha Nageswaran, memberikan sinyal bahwa pemerintah mungkin tidak akan terus-menerus menanggung beban sendiri.

“Menjaganya tetap terkendali akan membutuhkan pembagian beban antara pemerintah, melalui penyerapan fiskal, dan rumah tangga serta bisnis,” ujar Nageswaran, mengisyaratkan bahwa langkah-langkah ekonomi yang lebih pahit mungkin harus diambil demi menjaga napas perekonomian nasional.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com