Iran Serukan Akhiri Perang dan Bebaskan Aset yang Dibekukan, Respons Terbaru terhadap Amerika Serikat

0
AS
Ilustrasi bendera iran diangit biru. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERANKetegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin dingin dan pelik. Di tengah kepulan asap konflik yang belum reda, Iran secara resmi melayangkan tuntutan kepada Amerika Serikat (AS) untuk segera mengakhiri sanksi dan mencairkan aset mereka yang membeku di luar negeri sebagai syarat perdamaian.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa langkah ini bukanlah sebuah permintaan istimewa, melainkan penuntutan kembali apa yang menjadi hak bangsa Iran.

“Kami tidak menuntut konsesi apa pun. Satu-satunya yang kami tuntut adalah hak-hak sah Iran,” ujar Baqaei dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin (11/5/2026).

Selain pembebasan aset, Teheran mendesak penghentian blokade angkatan laut AS yang selama ini melumpuhkan jalur logistik mereka. Namun, alih-alih mereda, upaya diplomasi ini justru membentur tembok kokoh di Washington.

Baca Juga :  Biduran? Ikuti 5 Cara Meredakan Gatal dan Bengkak Secara Alami dan Natural

Reaksi Keras Trump dan Gejolak Harga Minyak

Presiden AS Donald Trump langsung menutup pintu negosiasi atas proposal balasan Iran tersebut. Melalui platform Truth Social, Trump memberikan respons singkat namun tajam yang seketika mengirimkan gelombang kejut ke pasar global.

“I baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” tulis Trump tanpa merinci poin mana yang ia tolak.

Sikap keras Trump ini langsung memicu kepanikan di bursa komoditas. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada Senin pagi; jenis Brent melesat 4,65% mendekati angka US$100 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di level US$105,5 per barel.

Titik Buntu Nuklir dan Selat Hormuz

Di balik layar, kebuntuan ini dipicu oleh persyaratan teknis yang sensitif. Menurut laporan Wall Street Journal, Iran mengajukan skema pengenceran sebagian uranium dan pemindahan sisanya ke negara ketiga, namun dengan jaminan material tersebut dikembalikan jika AS kembali melanggar kesepakatan.

Baca Juga :  Ketua DPRD Rudy Susmanto Minta KONI Beri Reward Pelatih Berprestasi

Poin lain yang memicu amarah Washington adalah rencana Iran memungut biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang menyalurkan seperlima pasokan minyak global.

Kondisi semakin rumit dengan keterlibatan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Operasi militer yang dimulai sejak 28 Februari lalu tidak akan berhenti sebelum fasilitas nuklir Iran rata dengan tanah.

“Ini belum berakhir, karena masih ada material nuklir yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar,” tegas Netanyahu.

Diplomasi di Tengah Hujan Drone

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa meski jalur dialog dibuka, Iran tidak akan memposisikan diri sebagai pihak yang kalah.

Baca Juga :  Iran Eksekusi Tiga Terpidana Terkait Kerusuhan Januari

“Kami tidak akan pernah tunduk kepada musuh, dan jika ada pembicaraan tentang dialog atau negosiasi, itu tidak berarti menyerah atau mundur,” tulisnya di media sosial X.

Namun, di saat kata-kata diplomasi dilemparkan ke udara, serangan fisik justru terjadi di lapangan. Pada hari Minggu, wilayah Teluk memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan intersepsi serangan drone yang diduga berasal dari Iran. Laporan serupa juga datang dari Kuwait dan Qatar, menunjukkan bahwa meski meja perundingan disiapkan, bayang-bayang perang terbuka masih menghantui kawasan tersebut.

Trump dijadwalkan akan membawa isu panas ini ke Beijing pada Kamis mendatang untuk menekan Presiden Xi Jinping pembeli utama minyak Iran agar turut menekan Teheran kembali ke kesepakatan yang diinginkan AS.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com