Kuba Hadapi Tantangan Ekonomi dan Ancaman Militer, Warga Siap Berperang Demi Kedaulatan

0
Kuba
Ilustrasi Bendera Kuba berkibar di atas tiang yang lapuk di bawah langit biru yang dalam.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, HAVANATemaram lampu jalanan Havana yang meredup akibat krisis energi, desas-desus tentang perang baru mulai berembus kencang. Ibu kota Kuba yang biasanya riuh kini dicekam ketegangan geopolitik tertinggi sejak era Perang Dingin. Di sudut-sudut kota, warga sipil lintas generasi dari pemuda hingga saksi hidup Revolusi 1959 mulai berbisik tentang satu hal yaitu angkat senjata melawan negara adidaya di utara mereka, Amerika Serikat.

Gelombang kepanikan ini dipicu oleh peringatan keras yang dilayangkan Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, kepada Washington. Ia menegaskan bahwa aksi militer apa pun yang ditujukan ke negaranya akan dibayar mahal dengan pertumpahan darah yang mengerikan, sekaligus membawa dampak fatal bagi stabilitas keamanan di seluruh kawasan.

Mengutip laporan dari Reuters pada Senin (18/05/2026), ketegangan ini memuncak usai media Axios merilis laporan intelijen terklasifikasi pada hari Minggu. Laporan tersebut menuduh Kuba telah membeli ratusan drone militer serta merancang operasi udara darurat untuk menggempur wilayah Key West di Florida, kapal-kapal perang AS, hingga pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo.

Pemerintah Kuba langsung bergerak cepat membantah keras tudingan tersebut. Diaz-Canel menilai AS sengaja memproduksi narasi palsu untuk melegitimasi rencana agresi militer. Melalui saluran digitalnya, sang presiden memastikan negaranya tidak berniat mengusik kedamaian Washington.

Baca Juga :  Puluhan Komunitas di 27 kabupaten Kota di Jabar Mulai Siap Deklarasikan Haru Suandharu Maju di Pilgub Jabar

Kuba tidak mewakili suatu ancaman,” ujar Miguel Diaz-Canel dalam sebuah unggahan di platform X seperti dikutip dari Reuters.

Situasi di dalam negeri Kuba sendiri sebenarnya sedang berada di titik nadir. Akibat blokade pasokan energi yang dilancarkan AS sejak penangkapan Presiden Venezuela pada Januari lalu, negara kepulauan ini kehabisan bahan bakar fosil. Mayoritas warga kini hanya bisa menikmati aliran listrik selama satu hingga dua jam saja dalam sehari.

Kendati dihantam kesulitan hidup yang mencekik, nyali warga lokal tampaknya tidak surut. Di jalanan Havana, sentimen anti-intervensi seketika menyatukan arus suara masyarakat.

“Saya tahu Kuba adalah negara yang kuat. Orang Kuba sangat bertenaga dan mereka tidak akan mendapati kami dalam kondisi tidak siap,” kata Sandra Roseaux, seorang warga sipil berusia 57 tahun kepada Reuters.

Bagi Roseaux, rasa lapar akibat sanksi ekonomi berlapis dari Gedung Putih bukan alasan untuk menyerah kalah tanpa perlawanan.

Baca Juga :  4 Alasan Mengapa Tabebuya Harus Ada di Setiap Taman: Manfaat Kesehatan yang Menakjubkan

“Jika mereka datang, mereka harus bertempur, karena Kuba akan membalas. Negara saya, dalam kondisi lapar atau bagaimanapun jalannya, akan membalas. Lebih baik mereka tidak datang karena akan ada pertempuran,” tutur Roseaux melanjutkan.

Ketegangan makin diperkeruh oleh manuver hukum dari Washington. Jaksa penuntut AS dikabarkan berencana menyeret mantan pemimpin ikonik Kuba, Raul Castro yang kini berusia 94 tahun, ke meja hijau. Castro dituduh bertanggung jawab atas insiden penembakan jatuh dua pesawat kemanusiaan pada tahun 1996 silam. Langkah pemerintahan Donald Trump ini dinilai sebagai provokasi politik paling agresif dalam beberapa dekade terakhir.

Merespons tekanan hukum tersebut, Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, langsung melayangkan nota pembelaan berbasis hukum internasional.

Kuba, seperti setiap bangsa di dunia, memiliki hak atas bela diri yang sah terhadap agresi eksternal di bawah Piagam PBB dan hukum internasional,” tegas Bruno Rodriguez melalui unggahan di media sosialnya.

Desakan Diplomasi di Antara Semangat Revolusi

Di sisi lain, tidak semua warga menghendaki moncong senjata berbicara. Sebagian kelompok lansia di Havana berharap akal sehat dan meja perundingan bisa menjadi jalan keluar sebelum darah benar-benar tumpah.

Baca Juga :  Bupati Bogor Bersama Forkopimda Pastikan Perayaan Natal Dan Akhir Tahun Aman dan Tertib

“Tidaklah benar bagi Amerika Serikat untuk menginvasi Kuba, tidak pula benar bagi Kuba untuk menginvasi Amerika Serikat,” cetus Ulises Medina, warga Havana berusia 58 tahun.

Medina berharap kedua kepala negara bisa mengesampingkan ego militer demi mencegah kehancuran total di kedua belah pihak.

“Mereka harus mencapai kesepakatan dan berbicara serta bernegosiasi. Kuba, bagaimanapun juga, akan mempertahankan dirinya sendiri karena negara ini tidak akan diserahkan begitu saja,” ucap Medina menjelaskan.

Kendati jalur damai tetap digaungkan, memori kolektif akan semangat Revolusi 1959 terbukti masih mengakar kuat di pundak para veteran dan warga senior Kuba. Mereka menegaskan tidak akan membiarkan kedaulatan tanah air mereka diinjak oleh kekuatan asing.

“Rakyat Kuba tidak membiarkan siapa pun mencampuri tanah mereka,” kata Jorge Villalobos, seorang warga sepuh berusia 87 tahun kepada Reuters.

Bagi Villalobos, ketimpangan teknologi militer modern milik Pentagon bukan sebuah alasan untuk gentar.

“Orang Kuba tahu bagaimana cara mempertahankan diri mereka sendiri, bahkan dengan tongkat dan batu,” pungkas Villalobos menjamin loyalitas warga negaranya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com