Respons Keras Indonesia terhadap Penangkapan WNI dalam Misi Kemanusiaan di Perairan Siprus

0
perairan Siprus
dikepung oleh armada militer Israel.Foto : Detik.com

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Langit kelabu perairan Siprus, Laut Mediterania Timur, sebuah konvoi kapal pembawa bantuan kemanusiaan internasional mendadak dikepung oleh armada militer Israel. Misi damai yang mengusung nama Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 tersebut seketika berubah menjadi drama penyanderaan di laut lepas.

Di antara ratusan sukarelawan dunia yang terombang-ambing di dalam kapal-kapal yang ditangkap, terselip kecemasan mendalam dari tanah air yaitu dua warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan berada di dalam manifes pelayaran tersebut dan kini hilang kontak.

Merespons insiden penangkapan ini, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) langsung melayangkan protes dan kecaman paling keras atas tindakan sepihak militer Israel di perairan internasional tersebut.

Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, mengonfirmasi bahwa aksi pencegatan tersebut telah melumpuhkan sebagian besar armada kemanusiaan yang tengah bergerak menuju titik penyaluran bantuan.

Baca Juga :  Sebanyak 55 Anggota DPRD Kabupaten Bogor Periode 2024-2029 Resmi Dilantik

“Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur,” tegas Vahd Nabyl A. Mulachela saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (18/5/2026).

“Hingga saat ini, sedikitnya sepuluh kapal dikonfirmasi telah ditangkap, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys,” tambahnya merinci situasi di lapangan.

Identitas WNI di Dalam Kapal yang Ditahan

Berdasarkan basis data yang dihimpun dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), pihak Kemlu memetakan keberadaan WNI yang ikut serta dalam misi tersebut. Salah satu WNI terkonfirmasi berada di dalam Kapal Josef yang turut disita oleh militer Israel.

Relawan tersebut diidentifikasi bernama Andi Angga Prasadewa, yang berangkat sebagai delegasi resmi dari aliansi GPCI-Rumah Zakat.

Tak hanya relawan kemanusiaan, garis konflik ini juga menyeret pekerja media asal Indonesia. Seorang jurnalis dari harian Republika atas nama Bambang Noroyono, dilaporkan berada di salah satu kapal konvoi lainnya. Namun, Vadh menjelaskan bahwa nasib dan posisi pasti kapal yang ditumpangi oleh Bambang masih buram.

Baca Juga :  24 Kios Dibongkar, Terminal Cibinong Siap Hadirkan Bus Malam dan Transjakarta Terintegrasi

“Situasi di lapangan masih sangat dinamis dan kemungkinan perkembangan tetap perlu diantisipasi,” ujar Vadh diplomatis.

Desakan Hukum Humaniter dan Rencana Evakuasi

Menyikapi penahanan sepihak ini, Pemerintah Indonesia menuntut pertanggungjawaban penuh dari otoritas Israel. Kemlu mendesak agar seluruh awak kapal dan muatan bantuan logistik segera dibebaskan tanpa syarat, demi memastikan hak-hak warga Palestina mendapatkan pasokan kemanusiaan tidak terhambat, sebagaimana diatur dalam hukum internasional.

Vadh memaparkan bahwa persiapan taktis untuk mengonfrontasi situasi darurat ini telah dinyalakan sejak awal oleh Direktorat Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu RI. Koordinasi lintas batas langsung dijalin bersama tiga perwakilan diplomatik Indonesia di sekitar wilayah konflik, yakni KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman.

Baca Juga :  Tim Garuda Berharap Hasil Positif di Laga Melawan Australia Sore Ini

“Sejak awal Kemlu c.q Dit. PWNI telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan mereka,” terang Vadh.

Langkah kontingensi kini terus dimatangkan oleh otoritas diplomatik Indonesia. Fokus utama saat ini adalah membuka jalur komunikasi dengan berbagai otoritas di kawasan Mediterania guna memantau kondisi fisik dan hukum kedua WNI tersebut.

“Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan,” urai Vadh lebih lanjut.

“Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat,” pungkasnya menegaskan komitmen negara.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com