
NARASITODAY.COM, BOGOR – Kegigihan membuahkan hasil. Siswi SMAN 1 Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Kharisa Aini Husna, berhasil diterima di empat perguruan tinggi negeri (PTN) favorit melalui jalur seleksi mandiri setelah sebelumnya gagal pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) maupun Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Empat kampus yang menerima Kharisa adalah Universitas Indonesia (UI), IPB University, Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Kepala SMAN 1 Leuwiliang, H. Taopik, S.Pd., M.Pd.I, mengaku bangga atas capaian siswinya tersebut. Menurutnya, keberhasilan Kharisa menjadi bukti bahwa kegagalan pada seleksi awal bukanlah akhir dari perjuangan untuk menempuh pendidikan tinggi.
“Masya Allah, Kharisa masuk empat PTN top,” ujar Taopik melalui akun TikTok pribadinya, di kutip Sabtu (12/7/2026).
Ia menilai prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi sekolah. Tahun ini, SMAN 1 Leuwiliang kembali mencatatkan prestasi membanggakan setelah sebelumnya salah satu alumninya, Zaskia Zahra, berhasil memperoleh Beasiswa Garuda dan diterima di University of Toronto, Kanada, pada jurusan Electrical Engineering.
Sementara itu, Kharisa mengungkapkan perjalanan menuju perguruan tinggi impiannya tidak berjalan mudah. Ia sempat dinyatakan tidak lolos pada jalur SNBP maupun SNBT. Atas dorongan orang tuanya, ia kemudian mencoba peruntungan melalui jalur seleksi mandiri.
“Awalnya saya ditolak di SNBP dan SNBT. Orang tua kemudian menyarankan saya untuk tetap mencoba jalur mandiri. Saya mendaftar ke lima universitas, yaitu UPI, UNJ, Unpad, UI, dan IPB. Alhamdulillah saya diterima di empat kampus, yakni UI, Unpad, UPI, dan IPB. Hanya UNJ yang belum berhasil,” ujar Kharisa.
Ia menjelaskan, dirinya berencana memilih Universitas Indonesia dengan Program Studi Terapi Okupasi karena melihat prospek lulusannya yang dinilai sangat menjanjikan.
“Insya Allah saya memilih UI karena prospek kerja Terapi Okupasi cukup baik. Di Indonesia, program studi ini hanya ada di UI dan Poltekkes Surakarta, sehingga peluang kariernya cukup besar,” katanya.
Taopik berharap kisah perjuangan Kharisa dapat menjadi motivasi bagi para siswa lainnya agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
“Kalau gagal di SNBP atau SNBT, jangan putus asa. Masih ada jalur lain seperti seleksi mandiri. Masuk perguruan tinggi tidak hanya melalui satu pintu. Semoga kisah Kharisa menjadi inspirasi bagi adik-adik kelasnya untuk terus berjuang meraih cita-cita,” tutupnya.***
Wartawan : Andreas













