NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menerapkan strategi ganda yang kontras dalam menghadapi Teheran. Di satu sisi, secercah harapan muncul setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali blokade Selat Hormuz. Namun di sisi lain, AS enggan melonggarkan cengkeraman ekonominya dengan merilis paket sanksi baru yang membidik jaringan perdagangan minyak militer Iran.
Mengutip laporan Reuters pada Jumat (29/5/2026), Departemen Keuangan AS mengumumkan pemblokiran terhadap delapan kapal tanker yang terbukti aktif mengalirkan minyak mentah dan produk minyak bumi Iran ke pasar global.
Di antara armada “penyelundup” tersebut, terselip kapal tanker Flora yang mengibarkan bendera Kepulauan Marshall, Hauncayo berbendera Komoro, serta Ill Gap yang menggunakan bendera Panama.
Langkah tegas ini diambil guna memastikan bahwa pelonggaran jalur logistik di Selat Hormuz tidak disalahgunakan oleh Iran untuk memperkuat kekuatan militernya yang sempat mengguncang kawasan Timur Tengah.
“Kami tidak akan mengizinkan pemerintah Iran untuk meningkatkan pendapatan minyaknya dengan tujuan membangun kembali angkatan bersenjata dan kemampuan militernya,” tegas Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam pernyataan resminya.
Bayang-Bayang Krisis Selat Vital
Paket sanksi teranyar ini menjadi kelanjutan dari ketegangan hebat yang dipicu oleh perang kiriman AS dan Israel sejak 28 Februari lalu. Konflik bersenjata tersebut sempat membuat pasar energi global lumpuh dan bergejolak hebat setelah Selat Hormuz jalur nadi yang biasanya dilewati oleh 20 persen pasokan minyak dan gas dunia di lepas pantai Iran dan Oman terpaksa ditutup total.
Meskipun kesepakatan sementara untuk mencabut pembatasan pengiriman di selat tersebut sudah di ambang mata, Presiden Donald Trump dilaporkan belum memberikan lampu hijau atau menyetujui secara penuh klausul perdamaian dari perang yang berkecamuk sejak awal tahun tersebut. Ketidakpastian sikap Gedung Putih inilah yang membuat situasi di lapangan masih terasa sangat cair dan menegangkan.
Memutus Rantai Gurita Bisnis Teheran
Bukan hanya menyasar armada kapal di laut lepas, radar sanksi Negeri Paman Sam kali ini juga menjangkau gurita bisnis sekutu Teheran yang bergerak di balik layar. AS membekukan aset dan memutus akses finansial terhadap lebih dari 15 entitas yang dituduh menjadi penyokong dana terselubung bagi militer Iran.
Beberapa korporasi yang masuk dalam daftar hitam tersebut tersebar di pusat-pusat finansial dunia. Di antaranya adalah Worth Seen Energy Limited yang berbasis di Hong Kong, Symphony Shipping and Maritime Management Inc yang beroperasi dari Dubai, serta Mehdiyev Trading Co yang juga mengendalikan operasinya dari Hong Kong.
Melalui kombinasi diplomasi meja runding dan pembekuan aset ini, Washington mencoba memainkan ritme yang rapi: membuka pintu gerbang energi dunia demi menstabilkan harga minyak global, sembari perlahan mencekik pundi-pundi uang yang bisa memicu kembali mesin perang Teheran.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














