India Menghadapi Perubahan Demografi Signifikan Setelah Tingkat Kesuburan Menurun di Bawah Ambang Penggantian Penduduk

0
India
Ilustrasi seorang wanita yang sedang duduk.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,NEW DELHILorong-lorong rumah bersalin di New Delhi kini tak lagi sebingar beberapa dekade lalu. India, negara yang baru saja menyandang predikat sebagai pemilik populasi terbesar di dunia menumbangkan China pada 2023, kini justru tengah menghadapi titik balik demografi yang sunyi.

Angka kesuburan di negeri berpenduduk 1,5 miliar jiwa ini merosot tajam, jatuh di bawah ambang batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah penduduk dalam jangka panjang.

Berdasarkan data terbaru dari laporan Sample Registration System (SRS) yang dirilis oleh Kantor Panitera Umum dan Komisioner Sensus India, Angka Kesuburan Total (TFR) India kini menyentuh level 1,9 anak per perempuan. Angka ini berada di bawah tingkat penggantian populasi standar sebesar 2,1.

Sebuah penurunan drastis jika menengok ke belakang, di mana pada awal tahun 2000-an, seorang perempuan di India rata-rata melahirkan 3,3 anak.

Pendidikan, Biaya Hidup, dan Pilihan Perempuan

Pergeseran ini tidak terjadi dalam semalam. Sejak era 1970-an, New Delhi telah gencar mengampanyekan program pengendalian penduduk demi mengerem ledakan populasi. Namun, penggerak utama dari penurunan instan belakangan ini justru adalah emansipasi dan realitas ekonomi yang kian menjepit.

Baca Juga :  Warga Citeureup Sebut Pelanggaran Lawan Arus di Jalan Baru Picu Banyak Kecelakaan

“Angka kelahiran total sering kali turun ketika lebih banyak perempuan dalam masyarakat memiliki acesso ke pendidikan, kontrasepsi, dan lebih banyak peran dalam pengambilan keputusan di rumah tangga,” ujar ekonom pembangunan India, Dipa Sinha, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (10/6/2026).

Selain kesadaran gender, Sinha menambahkan bahwa meningkatnya biaya hidup dan mahalnya biaya membesarkan anak turut memaksa banyak keluarga modern di India berpikir ulang untuk memiliki banyak anak.

Di sisi lain, jaminan kesehatan yang membaik ikut andil. Ketika angka kematian bayi berhasil ditekan dari 30 per 1.000 kelahiran hidup pada 2019 menjadi 24 per 1.000 pada 2024, para orang tua tidak lagi merasa harus memiliki banyak anak demi memastikan ada yang bertahan hidup hingga dewasa.

Ketimpangan Utara-Selatan dan Manuver Insentif

Uniknya, potret menyusutnya tangisan bayi ini tidak merata di seluruh India. Ada jurang demografi yang menganga antara wilayah utara yang lebih miskin dengan wilayah selatan yang lebih makmur.

Baca Juga :  Edukasi Pasien, RSUD Leuwiliang : Penting Mengenal Rambu Keselamatan Pasien

Negara bagian Bihar di utara masih mencatat TFR tinggi sebesar 2,9, disusul Uttar Pradesh dengan angka 2,6. Kontras dengan pemandangan itu, ibu kota New Delhi mencatat angka sangat rendah, yakni 1,2 kelahiran per perempuan. Kawasan selatan seperti Tamil Nadu dan Kerala juga mandek di angka 1,3.

Menurut Sinha, perkembangan ekonomi yang pesat, kualitas pendidikan yang lebih baik, serta posisi tawar perempuan yang jauh lebih kuat di wilayah selatan India menjadi alasan utama mengapa rahim-rahim di sana memilih untuk beristirahat lebih cepat.

Ketimpangan ini memicu kekhawatiran baru di panggung politik. Wilayah utara yang padat berpotensi mendominasi porsi kursi di parlemen dan alokasi anggaran pusat. Khawatir akan penyusutan populasi, beberapa wilayah selatan mulai bermanuver.

Negara bagian Andhra Pradesh, misalnya, nekat menawarkan bonus 30.000 rupee (sekitar Rp6,59 juta) bagi warga yang mau melahirkan anak ketiga, dan 40.000 rupee (sekitar Rp8,79 juta) untuk anak keempat, di samping penyediaan program bayi tabung gratis.

Baca Juga :  Konflik Timur Tengah Kabutkan Prospek Ekonomi India, Proyeksi Pertumbuhan Terancam Koreksi

Menipisnya Bonus Demografi

Bagi para ekonom, tren ini melayangkan sinyal bahaya bagi masa depan ekonomi India. Selama dua dekade terakhir, India menikmati ‘bonus demografi’ pasokan tenaga kerja usia produktif yang melimpah yang menyokong pertumbuhan ekonomi raksasa Asia Selatan ini.

Namun, jika buaian bayi kian jarang berayun, India diprediksi akan menyusul nasib kelabu tetangga-tetangganya di Asia Timur seperti China (TFR 1,0), Taiwan (TFR 0,86), dan Korea Selatan (TFR 0,75) yang kini kelimpungan akibat krisis penuaan penduduk.

“Jika jumlah anak yang lahir lebih sedikit, maka dalam waktu sekitar 30 hingga 40 tahun, India akan memiliki lebih banyak orang lanjut usia yang tidak dapat berpartisipasi dalam angkatan kerja sebanyak sebelumnya, sehingga menimbulkan tantangan bagi angkatan kerja negara,” urai Sinha memperingatkan.

India kini berada di persimpangan jalan yaitu merayakan keberhasilan mengendalikan populasi, atau mulai bersiap menghadapi fajar kelabu di mana pabrik-pabrik dan sawah mereka kekurangan tenaga muda di masa depan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com