NARASITODAY.COM,JAKARTA – Di tengah deru mesin komuter dan klakson kereta yang membelah kota, sebuah langkah besar untuk merawat nyawa di perlintasan rel sedang dipacu. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kini tengah mempercepat program penutupan perlintasan sebidang di berbagai wilayah demi menekan angka kecelakaan operasional kereta api.
Langkah konkret telah membuahkan hasil dengan ditutupnya 172 perlintasan sebidang yang dinilai rawan. Tak berhenti di situ, petugas di lapangan saat ini juga sedang memproses penutupan di 490 titik lainnya. Progres krusial ini disampaikan langsung oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan.
“Kami menyampaikan progres percepatan penanganan perlintasan sebidang. Saat ini sudah ada 172 perlintasan yang ditutup dan 490 lainnya sedang dalam proses,” ujar Dudy usai pertemuan pada Kamis (11/6/2026).
Jabodetabek Jadi Fokus Utama, Ribuan Titik Menanti Giliran
Menyusuri jalur rel di kawasan urban seperti Jakarta dan sekitarnya adalah tentang berkejaran dengan waktu dan risiko. Kepadatan kendaraan yang kerap mengabaikan sirine peringatan menjadikan wilayah Jabodetabek sebagai fokus utama sterilisasi. Dari total perlintasan yang sudah ditutup, mayoritas berada di area megapolitan ini.
“Yang paling banyak berada di wilayah Jabodetabek, sekitar 166 lokasi,” kata Dudy.
Meski demikian, pekerjaan rumah pemerintah masih panjang. Masih ada sekitar 1.148 perlintasan sebidang yang masuk dalam daftar target penanganan berikutnya.
Tantangan keselamatan ini memang nyata dan mendesak. Data pemerintah mencatat, dari total 3.674 perlintasan sebidang di Indonesia, sebanyak 1.810 titik di antaranya merupakan perlintasan “liar” alias tidak dijaga.
Dari angka yang tidak dijaga tersebut, 172 titik memiliki lebar jalan sempit di bawah dua meter, sementara 1.638 lainnya merupakan jalan raya dengan lebar di atas dua meter yang setiap hari ramai dilalui kendaraan.
Sentuhan Teknologi dan Wajah Baru Stasiun Masa Depan
Bukan sekadar menutup jalan, modernisasi sistem keselamatan juga merambah ke dalam kabin masinis. Berdampingan dengan program Kemenhub, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah bersiap menyuntikkan teknologi Automatic Train Protection (ATP) pada jaringan kereta api konvensional mereka. Sistem pintar ini diharapkan menjadi benteng pertahanan terakhir untuk mencegah benturan dan kecelakaan di atas rel.
Di sisi lain, wajah transportasi massal ibu kota juga bersiap bersolek demi kenyamanan penumpang. Dalam laporannya kepada Presiden, Menhub Dudy membeberkan rencana besar renovasi Stasiun Gambir yang akan digarap dalam dua tahun ke depan agar terintegrasi mulus dengan layanan KRL Commuter Line.
Tak ketinggalan, raksasa infrastruktur Stasiun Manggarai terus dimatangkan untuk mengemban tugas berat sebagai pusat integrasi (hub) utama transportasi kereta api di Jakarta.
Seluruh langkah estafet ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam merajut konektivitas kota yang tidak hanya cepat dan berkapasitas besar, namun yang paling utama yaitu aman bagi setiap nyawa yang diangkutnya.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














