NARASITODAY.COM,WASHINGTON D.C. – Sebuah operasi militer rahasia yang senyap, cepat, dan mematikan di tengah pekan ini akhirnya menyudahi pelarian panjang Héctor Rusthenford Guerrero Flores. Pria yang lebih dikenal dunia dengan julukan “Niño Guerrero” ini adalah otak di balik gurita bisnis haram Tren de Aragua salah satu geng kriminal transnasional paling ditakuti di benua Amerika.
Guerrero, yang sempat memimpin kekaisaran kriminalnya dari balik jeruji besi sebelum melarikan diri dari Penjara Tocoron Venezuela pada 2023 lalu, kini tidak bisa lagi berpindah sembunyi. Langkahnya terhenti setelah peluru Komando Selatan Amerika Serikat (US Southern Command) melumpuhkannya dalam sebuah operasi gabungan berskala internasional.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan langsung keberhasilan operasi militer tersebut pada Jumat (12/6/2026). Trump menegaskan bahwa penyerangan ini merupakan perintah langsung darinya demi memberantas jaringan teror global.
“Di bawah arahan saya, Komando Selatan Amerika Serikat melaksanakan serangan cepat dan mematikan untuk mengeksekusi Niño Guerrero, pemimpin terkenal Tren de Aragua, salah satu organisasi teroris paling berdarah di dunia,” tulis Trump melalui platform Truth Social yang dikutip Reuters.
Aksi militer ini terbilang sekutu yang tak biasa, mengingat ketegangan diplomatik yang kerap terjadi antara Washington dan Caracas. Namun dalam memburu Guerrero, kedua negara sepakat mencairkan ego politis demi keamanan kawasan.
“Aksi ini dikoordinasikan erat dengan teman-teman kita di Venezuela, yang dengannya kita bekerja sama dengan sangat baik,” tambah Trump.
Baku Tembak Sengit di Lapangan
Kepala Pentagon, Pete Hegseth, memperkuat pengumuman tersebut melalui unggahannya di media sosial X. Ia mengonfirmasi bahwa operasi dijalankan pada awal pekan ini dan pihak intelijen telah memastikan bahwa Guerrero tewas dalam serbuan tersebut.
Kementerian Informasi Venezuela turut merilis pernyataan resmi yang menggambarkan situasi mencekam di lokasi penggerebekan. Menurut otoritas setempat, sempat terjadi baku tembak sengit antara pasukan gabungan dengan para loyalis Tren de Aragua sebelum akhirnya Guerrero berhasil dilumpuhkan. Operasi ini mengandalkan dukungan teknologi khusus serta pertukaran data intelijen yang intens antara AS dan Venezuela.
Sebelum operasi maut ini terjadi, pemerintahan Donald Trump memang telah menempatkan Tren de Aragua dalam daftar hitam sebagai organisasi teroris asing. AS bahkan sempat menjanjikan hadiah buronan senilai jutaan dolar bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi keberadaan Guerrero. Geng ini dituding bertanggung jawab atas banjirnya narkoba, maraknya perdagangan manusia, serta pencucian uang di wilayah AS.
Gurita Kejahatan Lintas Benua
Trump juga berulang kali mengklaim bahwa Tren de Aragua mengoordinasikan aktivitas kriminal mereka di AS dengan sepengetahuan pemerintah Venezuela di bawah Presiden Nicolás Maduro. Tuduhan inilah yang mendasari kebijakan keras pemerintahan Trump untuk mendeportasi sejumlah imigran gelap yang terafiliasi dengan geng ini dari AS langsung ke penjara berkeamanan maksimum di El Salvador.
Selama bertahun-tahun, nama Tren de Aragua menjadi momok menakutkan di sepanjang koridor Andes hingga Amerika Latin. Mereka menguasai jalur-jalur tikus perdagangan manusia, memeras para migran yang hendak mengadu nasib ke Chili, Panama, hingga Brasil, serta mengoperasikan sindikat penculikan, pembunuhan berencana, hingga pencurian ritel terorganisir.
Dengan tewasnya Niño Guerrero, menguap pula supremasi sang gembong yang selama ini licin bak belut. Kendati demikian, aparat penegak hukum di seluruh Amerika Latin kini tetap bersiaga mengantisipasi potensi guncangan atau perebutan takhta baru di dalam tubuh Tren de Aragua.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














