Pantai Coogee Kembali Dibuka Usai Serangan Hiu, Pengawasan Diperketat dengan Drone dan Jet Ski

0
Pantai Coogee
Ilustrasi ikan hiu.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,SYDNEY – Garis pantai Pantai Coogee yang biasanya riuh oleh tawa wisatawan, berubah mencekam. Setelah sempat dicekam ketakutan akibat serangan hiu akhir pekan lalu, pantai populer di Sydney, Australia ini akhirnya resmi dibuka kembali untuk umum pada Senin (15/6/2026). Meski demikian, atmosfer di sekitar pantai tidak lagi sama; pengawasan super ketat kini membayangi setiap jengkal pasir emasnya.

Untuk menjamin keselamatan publik, otoritas setempat tidak mau ambil risiko. Deru mesin jet ski kini bersahutan dengan suara dengung drone pelacak yang hilir mudik di langit pantai, berburu bayangan sang predator di balik jernihnya air laut.

“Penjaga pantai kami akan melanjutkan patroli jet ski sepanjang hari, dan Surf Life Saving NSW mengoperasikan drone pengintai hiu di Pantai Coogee,” bunyi rilis resmi dari Dewan Kota Randwick, menjelaskan upaya sterilisasi area pantai.

Baca Juga :  Perpanjang Gencatan Senjata, Israel-Lebanon Tetap Diwarnai Ketegangan dan Serangan Mendadak

Kewaspadaan tinggi ini dipicu oleh tragedi yang menimpa seorang perenang wanita berusia 35 tahun pada Sabtu pagi. Korban diserang secara mengerikan hanya dalam jarak tiga hingga empat meter dari bibir pantai.

Akibat gigitan tersebut, korban menderita luka parah di bagian lengan serta kaki kiri bawah, dan saat ini masih berjuang di ruang perawatan intensif rumah sakit dalam kondisi stabil.

Perubahan Iklim dan Bayang-Bayang Konflik Politik

Insiden berdarah ini menyisakan trauma psikologis mendalam bagi warga lokal maupun turis asing. Pasalnya, kejadian di Coogee menambah daftar panjang dari maraknya kasus serangan hiu fatal di pesisir Australia beberapa bulan terakhir.

Baca Juga :  Libur Imlek 2026, Polisi Berlakukan One Way Menuju Puncak

Data dari Australian Shark Incident Database mencatat adanya kenaikan kasus bertahap dengan rata-rata 29 insiden per tahun selama dekade terakhir. Menurut ilmuwan maritim Leonardo Guida, fenomena mengerikan ini merupakan dampak nyata dari pemanasan global.

“Perubahan iklim mengubah cara kerja samudra kita, menyebabkan air laut menjadi lebih hangat sehingga memicu peningkatan intensitas warga untuk berenang sekaligus mengubah pola pergerakan hiu,” jelas Guida mengenai korelasi rusaknya ekosistem laut dengan agresivitas satwa liar.

Tragedi ini pun langsung menggelinding menjadi bola panas di panggung politik Australia. Debat sengit kembali membara mengenai wacana pemusnahan massal (culling) populasi hiu penyerang. Mantan Perdana Menteri (PM) Tony Abbott secara agresif mendesak pemerintah agar segera melegalkan pembunuhan hiu putih demi keselamatan manusia.

Baca Juga :  Jejak Persekutuan yang Hilang: Dari Kerja Sama Rudal ke Serangan Rudal

“Sangat salah jika kita tidak memusnahkan hiu setelah terjadinya serangan,” tegas Abbott memberikan opini kerasnya melalui sebuah rekaman video yang diunggah secara resmi di laman Facebook pribadinya.

Namun, desakan brutal tersebut ditentang keras oleh kalangan akademisi yang menilai pembantaian hiu tidak akan menyelesaikan masalah. Profesor Emeritus Rob Harcourt menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi modern jauh lebih efektif dan manusiawi untuk memprediksi kehadiran hiu daripada melakukan pembantaian terhadap satwa laut yang dilindungi oleh hukum.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com