Ketika AI Menjadi Ustaz: Krisis Otoritas Keagamaan di Era Algoritma

0
Nur Azizah Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Foto : Ist

Penulis: Nur Azizah
Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

NARASITODAY.COM, BOGOR- Beberapa tahun lalu, seseorang yang ingin memahami persoalan agama biasanya mendatangi ustaz, kiai, atau guru agama. Ada proses bertanya, berdiskusi, bahkan belajar secara bertahap untuk memperoleh pemahaman yang utuh. Namun hari ini, kebiasaan tersebut perlahan berubah.

Cukup dengan mengetikkan pertanyaan pada ChatGPT, Gemini, atau platform kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) lainnya, jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi pinggiran.

Laporan Microsoft AI Economy Institute pada 2025 menunjukkan bahwa sekitar 16,3 persen populasi dunia atau hampir satu dari enam penduduk dunia telah menggunakan generative AI untuk belajar, bekerja, dan menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari.

Di tengah ekspansi tersebut, pertanyaan keagamaan pun tidak luput dari ruang interaksi manusia dan mesin.
Kehadiran AI tentu membawa manfaat yang besar.

Informasi mengenai ayat Al-Qur’an, hadis, fikih, maupun sejarah Islam kini dapat diakses lebih mudah oleh siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap lembaga pendidikan atau forum kajian keagamaan, AI dapat menjadi jembatan awal untuk memperoleh pengetahuan.

Baca Juga :  Kementerian Agama Gelar Sidang Isbat Penetapan 1 Zulhijah 1447 Hijriah, Prediksi Iduladha 2026 Seragam

Bahkan penelitian yang terbit dalam jurnal Religions pada 2025 menunjukkan bahwa komunitas keagamaan mulai memanfaatkan AI untuk berbagai kebutuhan religius, mulai dari pencarian informasi hingga aktivitas keagamaan tertentu.

Muncul pula platform berbasis AI seperti Magisterium AI yang digunakan untuk membantu menjawab pertanyaan keagamaan dalam komunitas Katolik.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat persoalan yang patut dicermati. Mengapa semakin banyak orang memilih bertanya kepada AI dibandingkan kepada guru atau ulama? Jawabannya bukan semata-mata karena AI semakin pintar, melainkan karena masyarakat semakin terbiasa dengan budaya instan.

AI menawarkan jawaban yang cepat, mudah diakses, tersedia selama 24 jam, dan bebas dari rasa sungkan. Pengguna tidak perlu membuka banyak referensi atau menghadiri kajian untuk memperoleh jawaban atas pertanyaannya.

Di sinilah persoalan yang lebih mendasar mulai muncul. Ketika AI semakin sering dijadikan rujukan dalam memahami persoalan agama, secara perlahan terjadi pergeseran otoritas keagamaan dari manusia kepada mesin.

Banyak orang menerima jawaban AI begitu saja karena disajikan secara sistematis dan meyakinkan. Padahal, kemampuan menghasilkan jawaban yang terdengar logis tidak selalu menjamin kebenaran isi jawaban tersebut.

Baca Juga :  PM Jepang Shigeru Ishiba Mundur, Jepang Hadapi Ketidakpastian Politik dan Ekonomi

Lebih jauh, AI juga tidak sepenuhnya bebas dari bias. Penelitian lintas universitas yang dipimpin Baylor University menunjukkan bahwa model AI masih memiliki keterbatasan dalam merepresentasikan perspektif agama secara seimbang. Bahkan hanya sebagian sangat kecil penelitian bias AI yang secara khusus mengkaji isu agama.

Studi lain pada 2026 juga menemukan bahwa model AI dapat memberikan respons yang berbeda terhadap pertanyaan keagamaan yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa AI tetap dibangun di atas data dan algoritma yang tidak selalu netral.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini menjadi semakin penting. Tradisi keilmuan Islam mengajarkan bahwa ilmu tidak hanya dinilai dari isinya, tetapi juga dari sumber dan proses transmisinya. Konsep sanad menunjukkan pentingnya kesinambungan keilmuan dari guru kepada murid.

Karena itu, otoritas ilmu tidak lahir dari kemampuan memberikan jawaban semata, melainkan dari proses belajar yang panjang, pengujian kompetensi, serta pengakuan keilmuan.

Selain itu, Islam juga mengajarkan prinsip tabayyun sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, yaitu kewajiban memeriksa dan memverifikasi informasi sebelum menerimanya. Prinsip ini sangat relevan di era AI, ketika informasi dapat diproduksi secara cepat dan masif.

Baca Juga :  Mantan Idol JKT48 Nabilah Ayu Raih Inspirasi Baru Lewat Kajian dan Pendalaman Agama

Jawaban yang diberikan AI tetap perlu diverifikasi melalui sumber yang kredibel dan otoritas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih dari sekadar transfer informasi, Islam juga menempatkan adab sebagai inti dari proses pencarian ilmu. Seorang guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing cara berpikir, memberikan keteladanan, serta membantu murid memahami konteks kehidupan.

Di sinilah AI memiliki keterbatasan mendasar. AI dapat menyajikan informasi, tetapi tidak dapat menghadirkan hikmah, pengalaman, dan keteladanan yang menjadi bagian penting dalam pendidikan Islam.

Karena itu, AI seharusnya tidak diposisikan sebagai pengganti ulama, melainkan sebagai mitra dalam proses pembelajaran.

UNESCO bahkan menegaskan bahwa penggunaan generative AI harus tetap berpusat pada manusia (human-centered), bukan menggantikan peran manusia dalam proses pembelajaran dan pengambilan keputusan.

Teknologi dapat mempercepat akses terhadap informasi, tetapi arah dan kebijaksanaan dalam memahami informasi tersebut tetap membutuhkan manusia.

Pada akhirnya, tantangan terbesar di era algoritma bukanlah kecanggihan teknologi yang terus berkembang, melainkan kemampuan manusia untuk menggunakannya secara bijak.

Sebab, yang perlu dikhawatirkan bukanlah ketika AI semakin pintar, melainkan ketika manusia berhenti berpikir dan menyerahkan seluruh proses pencarian kebenaran kepada algoritma.***