Terancam El Niño, Petani India Ramai-Ramai Alih Tanam ke Kedelai

0
kedelai
Ilustrasi Kedelai.Foto :Istock

NARASITODAY.COM, MUMBAIBayang-bayang cuaca ekstrem, geliat baru muncul di sektor agraria India. Produksi kedelai di negara tersebut diperkirakan bakal melonjak tajam pada musim tanam tahun ini. Fenomena El Niño yang mengancam curah hujan monsun justru menjadi pemantik para petani untuk beralih ke komoditas yang lebih tangguh terhadap kekeringan ini.

Langkah masif para petani India ini diprediksi akan mengubah peta kebutuhan impor minyak nabati global. Maklum, India selama ini memegang status sebagai salah satu importir minyak goreng terbesar di dunia.

Insentif Harga dan Siasat Melawan Kekeringan

Daya tarik utama kedelai tahun ini tidak lepas dari nilai ekonomisnya yang menggiurkan. Harga kedelai di pasar domestik meroket hingga menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yakni 7.587 rupee per 100 kilogram.

Baca Juga :  Harga Tiket Penerbangan Internasional di Taiwan Melonjak Tajam Akibat Kenaikan Harga Minyak Global

Angka ini melambung jauh di atas harga acuan yang ditetapkan pemerintah sebesar 5.328 rupee. Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga jagung yang justru lesu di bawah harga dasar.

Bagi para petani, kedelai kini bukan sekadar sumber keuntungan, melainkan sabuk pengaman di tengah prediksi bahwa curah hujan monsun tahun ini bisa menjadi yang terlemah dalam 11 tahun terakhir. Komoditas seperti tebu dan jagung yang boros air mulai ditinggalkan, digantikan oleh kedelai yang jauh lebih efisien dalam memanfaatkan air.

Petani tahun lalu banyak beralih ke jagung. Tapi sekarang kedelai memberi keuntungan lebih baik, jadi banyak yang kembali menanamnya,” ujar Manoj Agrawal, Managing Director Maharashtra Oil Extractions.

Baca Juga :  Kok Gitu? 5 Faktor yang Membuat Pria Merasa Minder di Hadapan Wanita Mandiri

Sentimen serupa dirasakan langsung di tingkat tapak oleh para petani yang harus berkejaran dengan prediksi cuaca buruk.

“Biasanya kami menanam tebu, tapi karena prediksi hujan rendah, kami beralih ke kedelai karena jauh lebih hemat air,” kata Manoj Kale, seorang petani di Solapur, Maharashtra.

Proyeksi Luas Lahan dan Efek Domino Global

Asosiasi industri mencatat luas tanam kedelai India pada tahun lalu mencapai sekitar 12 juta hektare. Dengan dinamika yang terjadi saat ini, pihak industri memperkirakan area lahan tersebut dapat beralih dan meningkat hingga 10% pada musim ini.

Kendati demikian, para pelaku industri tetap memberikan catatan bahwa hasil panen akhir akan sangat bergantung pada distribusi curah hujan selama musim monsun bergulir.

Baca Juga :  Harga Air Minum Kemasan Galon di Jakarta Naik Akibat Gangguan Pasokan Plastik dari Konflik Timur Tengah

Jika skenario peningkatan produksi kedelai domestik ini berjalan mulus, ketergantungan India terhadap impor minyak nabati otomatis akan mereda. Selama ini, India sangat bergantung pada pasokan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia, serta minyak kedelai dan bunga matahari dari Argentina, Brasil, Rusia, dan Ukraina.

Namun, transisi ini tidak terjadi dalam semalam. Para analis memperkirakan impor kedelai India masih berpotensi mencetak rekor hingga 900.000 ton tahun ini akibat imbas penurunan produksi pada musim sebelumnya.

Meski begitu, para pelaku perdagangan optimis bahwa lonjakan produksi dalam negeri kali ini akan menjadi benteng krusial untuk menahan laju impor minyak nabati di tengah fluktuasi harga global.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id