Musim Kemarau Meluas di Indonesia, El Nino Kuat Diperkirakan Bertahan Hingga Awal 2027

0
Musim kemarau
Ilustrasi tanah kering saat musim kemarau.foto:istock

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di berbagai wilayah Indonesia. Panas yang semakin menyengat dirasakan di sejumlah daerah seiring meluasnya musim kemarau yang kini telah mencakup lebih dari sepertiga wilayah Tanah Air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 37,6 persen wilayah Indonesia atau sekitar 263 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Selain ditandai dengan berkurangnya curah hujan, sejumlah daerah juga mengalami peningkatan suhu udara yang cukup signifikan. Berdasarkan pemantauan BMKG selama periode 22–24 Juni 2026, suhu maksimum di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara berada pada kisaran 35 hingga 35,5 derajat Celsius.

Sementara itu, suhu tertinggi tercatat di Papua Barat yang mencapai 38,6 derajat Celsius berdasarkan hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Rendani, Manokwari, pada 21 Juni 2026.

Berdasarkan hasil analisis Dasarian III atau 10 hari terakhir Juni 2026, wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi sebagian Sumatra Utara, Jambi, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, serta sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Maluku.

Baca Juga :  Sekda Ajat Minta Proses Penamaan Rupabumi Dilakukan Cermat dan Memperhatikan Aspek Histori

BMKG menyebut meluasnya musim kemarau tidak terlepas dari dinamika atmosfer global yang saat ini dipengaruhi fenomena El Nino.

“Perluasan musim kemarau ini sejalan dengan hasil pemantauan dinamika atmosfer pada skala global. Pada Dasarian II Juni 2026, anomali Suhu Permukaan Laut (SST) di region Nino 3.4 tercatat sebesar +1,61,” ujar BMKG dalam laman resminya, dikutip Senin (29/6/2026).

BMKG menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi indikator kuat terbentuknya El Nino.

“Angka ini mengindikasikan El Nino Condition, yang menjadi sinyal kuat akan berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah,” lanjut BMKG.

Dalam beberapa hari ke depan, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian. Kondisi tersebut semakin memperkuat pola musim kemarau yang kini meluas hampir di seluruh kepulauan.

Baca Juga :  Waspada Kemarau Lebih Kering, BMKG Prediksi El Nino Mulai Membayangi Semester II-2026

Wilayah yang diperkirakan mengalami penurunan curah hujan meliputi sebagian Pulau Sumatra, Banten, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, hingga sebagian besar wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Kondisi ini diperkirakan berdampak terhadap berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air, pertanian, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan apabila musim kering berlangsung lebih lama.

BMKG juga mengingatkan bahwa fenomena El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027. Berdasarkan proyeksi yang dilakukan pada awal Juni 2026, peluang El Nino bertahan dengan intensitas moderat mencapai 98 persen, sementara peluang berkembang menjadi kategori kuat mencapai 62 persen.

Meski demikian, dampak langsung terhadap Indonesia diperkirakan berlangsung selama periode musim kemarau tahun ini.

“Meskipun begitu, fenomena ini hanya akan memberi dampak langsung bagi wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026,” kata BMKG dalam informasi yang dibagikan melalui akun Instagram resminya beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  BMKG Ingatkan Warga Waspadai Potensi Hujan Lebat di Tengah Peralihan Musim di Indonesia

Fenomena El Nino tidak hanya memengaruhi Indonesia, tetapi juga diperkirakan mengubah pola cuaca di berbagai belahan dunia. Biro Meteorologi Australia bahkan memperingatkan bahwa pola El Nino yang mulai terbentuk di kawasan tropis Samudra Pasifik berpotensi berkembang menjadi salah satu yang terkuat dalam sekitar tujuh dekade terakhir.

Apabila prediksi tersebut terjadi, kawasan Amerika diperkirakan akan mengalami curah hujan tinggi, sedangkan sebagian besar Asia berpotensi menghadapi kondisi yang lebih panas dan kering. Situasi ini dikhawatirkan mengganggu sektor pertanian dan meningkatkan risiko terganggunya pasokan pangan di berbagai negara.

Sejumlah ilmuwan juga menilai dampak El Nino tahun ini dapat terasa lebih ekstrem karena diperkuat oleh perubahan iklim global. Kombinasi kedua fenomena tersebut diperkirakan akan meningkatkan intensitas cuaca panas dan memperpanjang musim kemarau di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com