Trump Desak Pengecer Bensin Turunkan Harga dan Peringatkan Masalah Besar di Masa Depan

0
Trump
Ilustrasi Mengisi ulang bahan bakar mobil secara manual di stasiun pengisian.(foto:istock)

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Di tengah kepulan asap konflik Timur Tengah yang berimbas pada lonjakan harga minyak mentah global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan peringatan keras kepada para pemilik pompa bensin di dalam negeri. Melalui platform media sosialnya, Trump menuntut penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) secara drastis demi meringankan beban finansial warga Amerika.

Pada Selasa (30/6/2026), Trump menuangkan kekesalannya secara blak-blakan.

Trump menulis di Truth Social, “Pengecer Bensin harus SEGERA menurunkan Harganya.”

Ia juga menambahkan peringatan yang tidak kalah tajam bagi para pelaku usaha yang dinilai mengambil keuntungan sepihak di tengah krisis.

Baca Juga :  Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Kepulauan Sangihe

“Tidak akan ada pengukuran, yang sepenuhnya ilegal. Jika Pengecer tidak melakukan ini, masalah besar ada di depan! Mulailah menargetkan sekitar $2,50 per Galon,” tulisnya.

Dampak Nyata Perang di Timur Tengah

Bagi masyarakat AS, harga bensin di papan stasiun pengisian bukan sekadar angka, melainkan simbol dari stabilitas ekonomi mereka. Tekanan ini berakar dari situasi geopolitik yang memanas sejak akhir Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang kemudian memicu aksi balasan ke wilayah Israel serta basis-basis militer AS di negara Teluk.

Baca Juga :  Uni Eropa dan Negara-Negara Dunia Siapkan Senjata Darurat Redam Lonjakan Harga Energi

Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak April lalu, situasi di lapangan masih rapuh karena AS dan Iran kerap saling tuduh melakukan pelanggaran. Di balik meja diplomasi yang alot di Washington dan Teheran, jutaan warga di Lebanon dan Iran telah menjadi korban pengungsian, sementara warga AS di ujung dunia lainnya harus menanggung imbasnya lewat lonjakan inflasi dan tingginya harga kebutuhan pokok.

Target Politik dan Penyelidikan Hukum

Pernyataan agresif Trump ini muncul bukan tanpa alasan. Keluhan konsumen yang kian nyaring atas tingginya harga bensin menjadi alarm bahaya bagi Partai Republik yang sedang berjuang keras mempertahankan kursi mayoritas di Kongres menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang.

Baca Juga :  Masyarakat Tetap Dapat Mengakses Layanan JKN Selama Libur Lebaran 2025

Sebagai langkah konkret, Trump pekan lalu mengaku telah menginstruksikan Departemen Kehakiman untuk mengaudit dan menyelidiki korporasi minyak yang sengaja menahan harga tinggi di tingkat eceran, meskipun tren harga minyak mentah dunia sebenarnya sudah mulai melandai. Ia menuduh perusahaan-perusahaan tersebut melakukan praktik “pencungkilan” atau eksploitasi harga demi mengeruk keuntungan di atas penderitaan pelanggan.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id