Rupiah Lesu ke Rp17.855 Pagi Ini, Terjebak Sikap Hati-Hati Investor dan Tensi Geopolitik

0
rupiah
Ilustrasi tumpukan uang kertas Rupiah Indonesia.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal perdagangan Selasa (30/6/2026), seiring sikap hati-hati pelaku pasar yang menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri pekan ini. Rupiah tercatat melemah tipis di tengah pergerakan mata uang global yang cenderung fluktuatif.

Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah berada di level Rp17.855 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 34 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah terjadi sejalan dengan penguatan dolar AS di pasar global.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau bervariasi. Sejumlah mata uang masih mampu bertahan di zona hijau, di antaranya yuan China yang menguat tipis 0,01 persen dan ringgit Malaysia yang naik 0,37 persen.

Baca Juga :  Warung Klontong Dilarang Jual Gas Melon, Warga: Bukannya Mempermudah, Malah Memperumit!

Namun, mayoritas mata uang regional justru melemah. Peso Filipina turun 0,16 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,06 persen, yen Jepang melemah 0,14 persen, dolar Hong Kong turun 0,03 persen, dan won Korea Selatan mengalami pelemahan paling dalam di kawasan Asia dengan penurunan 0,50 persen.

Di kelompok mata uang negara maju, tekanan terhadap dolar AS juga terlihat lebih dominan. Euro melemah 0,13 persen, poundsterling Inggris turun 0,15 persen, sementara dolar Australia terkoreksi 0,24 persen.

Baca Juga :  Lawan Premanisme, Warga Jampang Bogor Desak Pemkab Jamin Keamanan Investor

Selain itu, dolar Kanada melemah 0,08 persen dan franc Swiss turun 0,14 persen terhadap dolar AS.

Sentimen pasar yang berhati-hati membuat rupiah bergerak terbatas. Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai investor masih memilih bersikap wait and see terhadap sejumlah rilis data ekonomi penting, baik dari Amerika Serikat maupun domestik Indonesia.

Rupiah diperkirakan akan range bound terhadap dolar AS dengan potensi melemah terbatas. Investor cenderung wait and see serentetan data ekonomi penting baik dari domestik maupun AS pekan ini. Perkembangan geopolitik yang berubah-ubah di Timur Tengah juga membuat investor berhati-hati,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Baca Juga :  Gampang Bikin Resep Sup Oyong dan Tahu yang Wajib Dicoba

Ia memperkirakan pergerakan rupiah akan berada dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS dalam jangka pendek.

Pergerakan rupiah yang cenderung hati-hati ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor eksternal dan internal, termasuk ketidakpastian global serta arah kebijakan ekonomi negara maju yang masih menjadi perhatian utama investor.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com