NARASITODAY.COM, LOS ANGELES – Kekhawatiran bahwa harga tiket yang tinggi dan kebijakan pembatasan perjalanan Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengurangi minat penonton Piala Dunia 2026 sejauh ini tidak terbukti.
Sebaliknya, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu justru menunjukkan tren yang mengarah pada rekor kehadiran penonton sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.
Berdasarkan analisis Reuters terhadap data FIFA, jumlah penonton telah melampaui 2,85 juta orang setelah 44 pertandingan berlangsung. Tingkat keterisian stadion rata-rata mencapai 99,6 persen, menunjukkan hampir seluruh kursi di arena pertandingan terisi oleh penggemar.
Capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Piala Dunia 2026 berpotensi melampaui rekor penonton yang selama ini bertahan sejak edisi 1994 di Amerika Serikat. Saat itu, total kehadiran penonton mencapai hampir 3,6 juta orang.
Pakar ekonomi olahraga dari University of San Francisco, Dan Rascher, menilai tingginya animo publik tidak semata-mata didorong oleh popularitas sepak bola, melainkan juga budaya masyarakat Amerika yang gemar menghadiri acara berskala besar.
“Orang Amerika menyukai acara besar. Mereka ingin menjadi bagian dari momen-momen besar,” ujarnya.
Piala Dunia 2026 memang hadir dalam format yang lebih besar dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. FIFA menambah jumlah pertandingan menjadi 104 laga dari sebelumnya 64 pertandingan. Namun, dengan laju penjualan tiket yang terjadi saat ini, rekor penonton diperkirakan dapat terlampaui bahkan sebelum pertandingan ke-64 digelar.
Ekonom olahraga dari College of the Holy Cross, Victor Matheson, mengatakan ukuran stadion yang besar di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang mendukung tingginya jumlah penonton. Meski demikian, faktor kapasitas bukan satu-satunya penjelasan.
Secara persentase, tingkat keterisian stadion pada Piala Dunia 2026 tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam abad ini dan mendekati pencapaian Piala Dunia Jerman 2006 yang selama ini dianggap sebagai salah satu turnamen paling sukses dari sisi kehadiran penonton.
Harga Tiket Tinggi Tak Menjadi Hambatan
Di tengah tingginya minat masyarakat, harga tiket pertandingan juga menjadi sorotan. Untuk pertama kalinya, FIFA menerapkan sistem harga dinamis yang membuat harga tiket berubah mengikuti permintaan pasar.
Pada beberapa pertandingan, harga tiket mengalami lonjakan signifikan. Tiket yang dibeli menjelang laga Paraguay melawan Australia pekan lalu, misalnya, dijual sekitar US$ 450 per lembar. Sementara itu, data TicketData menunjukkan harga tiket termurah di pasar sekunder rata-rata mencapai US$ 798 untuk setiap pertandingan.
Meski menuai kritik dari sebagian penggemar, FIFA menilai kebijakan tersebut sejalan dengan tren industri olahraga global dan efektif dalam mengoptimalkan pendapatan sekaligus menjaga tingkat kehadiran penonton.
Untuk menjaga aksesibilitas, FIFA menyatakan telah menyediakan sekitar 130.000 tiket dengan harga US$ 60 per lembar bagi para penggemar.
Dampak Kebijakan Trump Dinilai Terbatas
Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 juga sempat diwarnai perdebatan terkait kebijakan pembatasan perjalanan yang diterapkan Pemerintahan Donald Trump. Sejumlah warga dari negara-negara seperti Iran, Haiti, dan Senegal disebut menghadapi kendala untuk menghadiri turnamen secara langsung.
Namun, para pengamat menilai kebijakan tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap angka kehadiran penonton.
Profesor manajemen olahraga dari University of South Carolina, John Grady, mengatakan masyarakat Amerika tetap menunjukkan kesediaan untuk membayar mahal demi menghadiri ajang olahraga premium.
Fenomena tersebut mencerminkan pola konsumsi yang masih kuat terhadap pengalaman eksklusif, meskipun sentimen konsumen secara umum belum sepenuhnya pulih.
“Orang Amerika menginginkan yang terbaik, dan Piala Dunia adalah ajang terbaik di kelasnya,” kata Rascher.
Mesin Pendapatan Baru FIFA
Lonjakan jumlah penonton juga menjadi kabar baik bagi FIFA. Federasi sepak bola dunia itu memperkirakan pendapatan dari penjualan tiket dan hak hospitality selama turnamen akan melampaui US$ 3 miliar.
Sejumlah ekonom olahraga bahkan memproyeksikan nilainya dapat mendekati US$ 4 miliar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan dari sektor yang sama pada Piala Dunia 2022 yang mencapai sekitar US$ 949 juta dan edisi 2018 sebesar US$ 712 juta.
Antusiasme publik tidak hanya terlihat di stadion. Berbagai fan festival resmi FIFA maupun acara pendukung yang digelar pihak swasta juga dipadati pengunjung. Hingga Senin lalu, lebih dari 3,5 juta orang tercatat menghadiri fan festival resmi FIFA yang menghadirkan siaran langsung pertandingan, hiburan, kuliner, dan beragam aktivitas interaktif.
Keberhasilan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dinilai menjadi modal berharga bagi Amerika Serikat menjelang Olimpiade Musim Panas 2028 di Los Angeles.
Bagi banyak pihak, turnamen ini bukan sekadar pesta sepak bola, tetapi juga ajang pembuktian kemampuan Amerika Serikat sebagai tuan rumah event olahraga terbesar dunia.
“Ini menjadi pemanasan yang bagus. Piala Dunia menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat mampu menggelar pesta olahraga berskala global dengan baik,” kata Grady.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














