
NARASITODAY.COM,ISLAMABAD – Hubungan diplomatik di Asia Selatan kembali membara setelah militer Pakistan meluncurkan operasi militer udara dan darat paling mematikan ke wilayah perbatasan Afghanistan.
Serangan masif ini diklaim berhasil melumpuhkan puluhan milisi, namun di sisi lain, pemerintah Taliban melaporkan adanya jatuhnya puluhan korban jiwa dari kalangan warga sipil yang tak berdosa.
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengonfirmasi bahwa operasi gabungan tersebut berhasil menewaskan 29 anggota milisi. Pihak Islamabad menegaskan bahwa gempuran ini merupakan aksi balasan strategis yang menargetkan kelompok Jamaat-ul-Ahrar sebuah faksi sempalan dari Tehreek-i-Taliban Pakistan (TTP) yang dituduh mendalangi serangan berdarah di Karachi pada akhir pekan lalu.
Namun, klaim kesuksesan militer tersebut dibayangi oleh nestapa kemanusiaan di wilayah target. Pemerintah Taliban Afghanistan mengecam keras operasi tersebut dan mengeklaim bahwa serangan udara Pakistan yang menghantam tiga provinsi di bagian timur telah menewaskan 36 warga sipil serta melukai 163 orang lainnya.
Tangis di Balik Runtuhan Rumah
Sentuhan pilu dari konflik ini terekam jelas di koridor-koridor rumah sakit darurat di Provinsi Paktia. Ruang perawatan kini dipenuhi oleh jeritan anak-anak dan kepanikan keluarga korban yang selamat dari kepulan asap bom.
Seorang warga lokal bernama Adam Khan mengekspresikan kepedihan mendalam saat menyaksikan para korban kecil yang harus menanggung dampak dari konflik bersenjata ini.
“Mereka yang tewas dalam salah satu serangan itu adalah warga sipil tak berdosa, termasuk anak-anak, orang tua, dan perempuan yang sedang tidur di sebuah rumah,” kata Adam Khan kepada AFP.
Tragedi kemanusiaan ini kian diperparah oleh taktik serangan beruntun. Wakil juru bicara pemerintah Afghanistan, Hamdullah Fitrat, mengungkapkan bahwa Provinsi Paktia dijatuhi bom untuk kedua kalinya justru di saat warga lokal sedang bergegas ke lokasi reruntuhan untuk mengevakuasi korban yang tertimbun.
Ironi Diplomasi Regional
Operasi militer di sepanjang garis perbatasan ini tercatat sebagai yang paling mematikan sejak Maret lalu. Situasi ini memicu ironi besar di panggung geopolitik. Di satu sisi, Pakistan bertindak sebagai mediator internasional yang menjembatani komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran demi meredakan perang di Timur Tengah. Namun di sisi lain, Islamabad menegaskan bahwa stabilitas keamanan dalam negeri mereka tidak bisa dikompromikan.
Bagi Pakistan, pertempuran melawan sel-sel militer domestik menuntut tindakan ofensif langsung ke sarang pertahanan mereka di wilayah kedaulatan Afghanistan.
Hingga saat ini, masa depan perdamaian di wilayah perbatasan tersebut masih diliputi ketidakpastian. Upaya mediasi yang sebelumnya diinisiasi oleh sejumlah negara sekutu, termasuk China, telah dinyatakan gagal total dalam merumuskan resolusi jangka panjang.
Gagalnya diplomasi ini mengancam kembalinya memori kelam awal tahun ini, di mana perang terbuka antara kedua negara telah merenggut ratusan nyawa warga Afghanistan dan memaksa puluhan ribu lainnya hidup terlunta-lunta di pengungsian.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













