NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di kala roda ekonomi dunia mulai terseok akibat bayang-bayang perang dan inflasi, Indonesia tampaknya masih mampu berdiri di pijakan yang kokoh. Dana Moneter Internasional (IMF) secara resmi mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen hingga akhir tahun 2026.
Kabar baik ini tertuang dalam laporan teranyar IMF bertajuk World Economic Outlook (WEO) Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology edisi Juli 2026. Dalam laporan tersebut, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai stabil dan tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan outlook edisi April 2026 lalu.
Ketahanan ekonomi Indonesia ini menjadi angin segar yang kontras dengan potret buram global. Pasalnya, melansir CNBC Indonesia, proyeksi positif bagi RI ini tetap bertahan di tengah ancaman nyata perlambatan ekonomi dunia yang dipicu oleh rembetan konflik bersenjata di Timur Tengah.
IMF sendiri memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun ini akan cenderung melambat jika dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu yang sempat menyentuh angka 3,5 persen.
“Kami memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027,” tulis IMF dalam laporannya yang dirilis pada Jumat (10/07/2026).
Jinak di Dalam Negeri, Memanas di Tingkat Global
Di balik kokohnya angka perkiraan untuk Indonesia, IMF menyoroti adanya kabut tebal yang menyelimuti lanskap ekonomi dunia. Salah satu musuh utama yang diwaspadai adalah risiko inflasi global yang diprediksi akan semakin memanas sepanjang tahun 2026, yang berpotensi menjadi batu sandungan besar bagi pertumbuhan banyak negara.
“Mengenai inflasi, gambaran tersebut agak kurang menggembirakan. Inflasi utama global telah direvisi naik menjadi 4,7 persen tahun ini, sementara perkiraan inflasi inti kami secara umum tidak berubah. Sederhananya, tren disinflasi yang telah berlangsung sejak awal 2024 telah terhenti,” jelas IMF.
Secercah Harapan dari Ketangguhan Energi
Meski dunia sedang dicekam kecemasan akibat ketegangan geopolitik, IMF melihat potret yang tidak sepenuhnya kelam. Ekonomi global dinilai memiliki daya tahan yang jauh lebih baik dalam menghadapi guncangan perang daripada yang dikhawatirkan sebelumnya.
Melonjaknya harga minyak mentah dunia sejauh ini berhasil diredam. Hal ini berkat langkah taktis berupa pengurangan persediaan, peningkatan produksi minyak di luar kawasan Teluk, serta berbagai kebijakan untuk menekan permintaan minyak.
Selain itu, transisi energi juga mulai menunjukkan taringnya. Peningkatan pangsa energi terbarukan yang stabil, dipadukan dengan pemanfaatan energi yang jauh lebih efisien dibanding tahun-tahun lalu, sukses membuat fondasi ekonomi banyak negara menjadi lebih tangguh menghadapi krisis.
Kondisi keuangan global pun dilaporkan mulai melunak dan tetap berada dalam level yang mendukung, meskipun sempat mengalami pengetatan yang cukup tajam pada bulan April lalu.
Kini, fokus dunia tertuju pada jalur logistik vital di Timur Tengah yang diharapkan bisa segera pulih untuk mengalirkan kembali urat nadi perekonomian global.
“Sekarang perkiraan kami mengasumsikan bahwa Selat Hormuz mulai dibuka kembali pada pertengahan Juli, dengan kondisi kembali normal seperti sebelum perang pada Maret 2027. Asumsi harga komoditas didasarkan pada harga pasar per 10 Juni, yang menyiratkan harga minyak rata-rata US$89 per barel untuk 2026,” tutup IMF dalam outlook-nya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













