
NARASITODAY.COM,BANJARNEGARA – Hamparan ladang kentang di Dataran Tinggi Dieng yang biasanya tampak hijau berubah menjadi putih keperakan. Embun yang membeku menutupi daun-daun tanaman, menciptakan pemandangan bak diselimuti salju. Di balik keindahan fenomena alam yang dikenal sebagai Embun Upas itu, tersimpan kekhawatiran para petani yang terancam gagal panen akibat suhu ekstrem.
Fenomena Embun Upas kembali melanda kawasan Dieng, Jawa Tengah, setelah suhu udara anjlok hingga mencapai minus 6 derajat Celsius pada pekan lalu. Kondisi tersebut menjadi suhu terendah yang tercatat di wilayah tersebut sejak awal 2026.
Kepala UPT Dieng Banjarnegara, Wibi Satria N, membenarkan bahwa kawasan dataran tinggi itu tengah mengalami cuaca dingin ekstrem.
Embun es yang muncul pada pagi hari tampak menyelimuti berbagai tanaman pertanian hingga membeku, menandakan suhu udara berada di bawah titik beku.
Kondisi ini bahkan lebih rendah dibandingkan suhu terdingin sebelumnya pada tahun ini yang sempat mencapai minus 4 derajat Celsius.
Bagi masyarakat Dieng, terutama para petani kentang, cuaca ekstrem tersebut bukan sekadar fenomena alam yang menarik perhatian wisatawan, tetapi juga ancaman serius terhadap hasil pertanian. Suhu yang terus berada di bawah nol derajat berpotensi merusak jaringan tanaman hingga menyebabkan gagal panen.
Kekhawatiran itu semakin besar karena sebagian besar warga di kawasan Dieng menggantungkan penghasilan dari budidaya kentang dan berbagai jenis sayuran dataran tinggi.
Fenomena Embun Upas juga ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satunya melalui video yang diunggah akun Instagram @brentsastro, yang memperlihatkan hamparan tanaman sayuran tertutup lapisan embun es berwarna putih.
Wibi membenarkan kondisi yang terlihat dalam video tersebut. Menurutnya, dampak terhadap tanaman akan semakin besar apabila suhu ekstrem terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
“Lihat beberapa hari ke depan, Mas. Kalau seperti tadi pagi tiga hari ke depan, 90% bisa mati semua. Mayoritas di Dieng tanaman kentang,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, suhu yang mencapai minus 6 derajat Celsius membuat lapisan embun es menjadi lebih tebal dibandingkan biasanya. Fenomena tersebut juga meluas ke sejumlah wilayah di kawasan Dieng.
“Nggih, embunnya lebih tebal dan cakupan wilayah lebih luas. Desa Dieng Kulon sampai Karangtengah, Mas. Termasuk Dieng Wetan,” pungkasnya.
Fenomena Embun Upas sendiri merupakan peristiwa alam yang lazim terjadi di Dataran Tinggi Dieng saat musim kemarau. Penurunan suhu secara drastis pada malam hingga dini hari menyebabkan uap air di permukaan tanaman membeku menjadi kristal es.
Meski menghadirkan panorama yang memikat dan kerap menjadi daya tarik wisata, Embun Upas juga dikenal sebagai “embun racun” oleh masyarakat setempat karena dapat merusak tanaman pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga.
Petani kini berharap suhu udara segera menghangat agar tanaman yang masih bertahan tidak mengalami kerusakan lebih parah. Sementara itu, fenomena dingin ekstrem diperkirakan masih berpotensi terjadi selama puncak musim kemarau di kawasan Dataran Tinggi Dieng.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













