NARASITODAY.COM, SANAA – Kelompok Houthi di Yaman kembali meningkatkan ketegangan di Timur Tengah setelah secara resmi mengumumkan pemberlakuan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan internasional dan pasokan energi global, terutama di kawasan Laut Merah.
Angkatan Bersenjata Houthi menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi berlaku segera dengan prinsip “mata ganti mata”. Kelompok yang memiliki hubungan dekat dengan Iran itu menyebut langkah tersebut sebagai respons atas apa yang mereka anggap sebagai tekanan dan pengepungan terhadap Yaman.
Mengutip laporan Reuters, Selasa (21/7/2026), Houthi menyatakan kebijakan tersebut juga berkaitan dengan tudingan terhadap Riyadh yang dinilai mendukung pihak yang berseberangan dengan mereka di Yaman.
“Menyatakan embargo maritim terhadap musuh kriminal Arab Saudi, berdasarkan persamaan ‘mata ganti mata’, yang berlaku segera,” demikian pernyataan resmi angkatan bersenjata Houthi.
Pengumuman tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran di sektor pelayaran. Risiko keamanan yang lebih tinggi membuat biaya asuransi bagi kapal dagang yang melintasi Laut Merah mengalami kenaikan.
Kawasan tersebut merupakan jalur strategis perdagangan dunia karena menjadi penghubung antara Asia, Eropa, dan kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memengaruhi distribusi barang maupun pengiriman energi internasional.
Iran dilaporkan terus mendorong Houthi untuk meningkatkan tekanan dengan menutup jalur Bab el-Mandeb, pintu masuk strategis menuju Laut Merah. Penutupan jalur tersebut dikhawatirkan dapat menghambat ekspor minyak dari kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi.
Gangguan terhadap arus energi global tersebut berpotensi memperburuk kondisi pasar minyak dunia yang sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Menanggapi langkah Houthi, Pemerintah Arab Saudi mengecam ancaman blokade laut tersebut. Riyadh membantah tuduhan bahwa mereka melakukan tindakan kriminal terhadap Yaman dan menegaskan dukungannya hanya diberikan kepada pemerintah Yaman yang sah.
“Kerajaan memastikan bahwa kami bekerja sama dengan pemerintah Yaman yang sah untuk menghilangkan penderitaan rakyat Yaman dengan melanjutkan proyek pengembangan, menyokong dana pemerintah yang sah, serta penyediaan turunan minyak bumi untuk pembangkit listrik,” tutur Kementerian Luar Negeri Saudi dikutip Arab News.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi, sejumlah pihak internasional berupaya membuka jalur diplomasi untuk mencegah konflik semakin meluas.
Para mediator dilaporkan tengah mendorong proposal gencatan senjata selama 10 hari sebagai upaya menyelamatkan kesepakatan darurat dan membuka ruang perundingan. Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni juga dilaporkan telah tiba di Islamabad untuk meminta Pakistan kembali berperan dalam proses mediasi.
Upaya diplomasi tersebut berlangsung ketika ketegangan Amerika Serikat dan Iran juga meningkat. Pasukan AS dilaporkan melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah wilayah di Iran, sementara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membalas dengan menyerang aset militer AS di Yordania, Kuwait, dan Suriah menggunakan rudal balistik serta drone.
Presiden AS Donald Trump membela tindakan militer tersebut dengan menyebutnya sebagai respons atas gugurnya anggota militer Amerika.
“Setiap kali Iran membunuh seorang Prajurit Amerika, mereka akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat! Petunjuk ini telah diteruskan kepada Sekretaris Perang Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Daniel Caine, dan setiap Pemimpin di Militer,” tulis Donald Trump dalam unggahan resminya di media sosial Truth Social pada hari Senin.
Konflik yang melibatkan berbagai aktor di kawasan Timur Tengah itu telah menyebabkan ribuan korban jiwa, terutama di Iran dan Lebanon. Sejumlah pemimpin regional kini berusaha mencari jalan diplomatik untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Presiden Lebanon Joseph Aoun dijadwalkan bertemu dengan Trump di Gedung Putih untuk membahas rencana pelucutan senjata kelompok Hizbullah yang bersekutu dengan Teheran serta isu penarikan pasukan Israel.
Sementara itu, dari Palestina, kelompok Hamas mengumumkan penunjukan Khalil Al-Hayya sebagai pemimpin tertinggi baru organisasi tersebut. Pergantian kepemimpinan ini dinilai sejumlah pengamat dapat memengaruhi sikap Hamas dalam menghadapi tekanan internasional terkait tuntutan pelucutan senjata di Jalur Gaza.
Dengan munculnya ancaman blokade laut oleh Houthi, Laut Merah kembali menjadi titik rawan yang berpotensi berdampak jauh melampaui konflik lokal, terutama terhadap perdagangan internasional dan stabilitas energi dunia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














