143 Pengungsi dan Migran Tewas atau Hilang di Lepas Pantai Mauritania

0
migran
Ilustrasi Pantai Mauritania.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, NOUADHIBOU – Sedikitnya 143 pengungsi dan migran dilaporkan tewas atau hilang setelah kapal yang mereka tumpangi terdampar di lepas pantai Mauritania saat berupaya mencapai Eropa melalui rute Atlantik.

Tragedi tersebut kembali menyoroti tingginya risiko penyeberangan menuju Kepulauan Canary, Spanyol, yang dikenal sebagai salah satu jalur migrasi paling mematikan di dunia.

Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) menyatakan kapal itu berangkat dari Bafuloto, Gambia, dengan membawa sekitar 160 penumpang. Di tengah pelayaran, kapal dilaporkan kehabisan bahan bakar dan hanyut selama 25 hari sebelum akhirnya ditemukan dan diselamatkan di Pelabuhan Nouadhibou, Mauritania, pada 18 Juli.

Saat proses penyelamatan dilakukan, hanya 38 orang yang ditemukan selamat, sementara sejumlah jenazah masih berada di atas kapal. Penjaga pantai Mauritania menyebut sedikitnya 122 orang dinyatakan hilang, sehingga total korban tewas atau hilang mencapai sedikitnya 143 orang.

Baca Juga :  Temukan Kebahagiaan dengan 5 Jenis Olahraga yang Meningkatkan Kesehatan Mental

Juru bicara UNHCR, Matt Saltmarsh, mengatakan para penyintas tiba dalam kondisi memprihatinkan setelah berminggu-minggu terombang-ambing di laut tanpa bantuan.

“Di antara para penyintas terdapat dua anak yang kehilangan seluruh anggota keluarganya selama perjalanan. Saat ini mereka masih menjalani pemulihan di rumah sakit,” ujar Saltmarsh kepada wartawan di Jenewa, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (22/7/2026).

UNHCR menjelaskan insiden tersebut terjadi di tengah upaya penyelamatan yang terus dilakukan di perairan Mauritania. Pada 14 hingga 18 Juli, lembaga itu mencatat tiga operasi penyelamatan yang berhasil mengevakuasi 387 orang dari kapal-kapal lain yang mengalami kesulitan di laut.

Baca Juga :  Pemulung Rongsokan Temukan Granat Nanas Masih Aktif Disaluran Irigasi

Selain tragedi tersebut, satu orang juga dilaporkan meninggal dunia di kapal lain yang tiba di Mauritania pada 14 Juli. Menurut UNHCR, para korban berasal dari sejumlah negara di kawasan Afrika Sub-Sahara, meski penyebab pasti kematian mereka masih dalam penyelidikan.

UNHCR kembali mengingatkan bahwa rute Atlantik menuju Kepulauan Canary merupakan salah satu jalur migrasi paling berbahaya di dunia.

“Jarak pelayaran yang sangat jauh, kapal yang penuh sesak, serta kondisi kapal yang tidak layak menjadi faktor utama tingginya angka kematian di jalur ini,” kata lembaga tersebut.

Baca Juga :  IOM Pangkas Bantuan untuk Pengungsi Rohingya, Ribuan Terancam Kehilangan Sumber Hidup

Lembaga itu juga mendesak perlunya peningkatan akses terhadap pendidikan dan lapangan pekerjaan di negara-negara asal migran agar masyarakat tidak terdorong mengambil risiko besar dengan menempuh perjalanan laut yang mematikan menuju Eropa.

Mauritania selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik keberangkatan utama bagi migran yang ingin mencapai Kepulauan Canary. Namun, arus migrasi melalui jalur tersebut belakangan menurun setelah Uni Eropa mendukung pengetatan pengawasan di Mauritania.

Kebijakan itu diikuti deportasi ribuan pencari suaka dan migran, yang menurut UNHCR justru mendorong sebagian orang memilih rute yang lebih jauh dan lebih berbahaya di sepanjang pesisir Atlantik.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com