Secret Service Minta Trump Ganti Air Force One karena Ancaman Iran

0
Trump
Ilustrasi  Air Force One.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mengganti pesawat kepresidenan secara mendadak saat meninggalkan Turki pada awal bulan ini setelah otoritas keamanan AS menerima informasi intelijen mengenai ancaman yang dinilai kredibel dari kelompok proksi Iran.

Informasi tersebut diungkap sejumlah sumber yang mengetahui persoalan itu kepada The New York Times. Ancaman disebut menyasar Trump beserta pesawat yang digunakannya, bukan hanya pesawat tertentu.

Saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Trump tiba menggunakan Boeing 747-8 yang merupakan hibah dari Qatar. Pesawat berusia sekitar 14 tahun itu sebelumnya telah dimodifikasi agar dapat difungsikan sebagai Air Force One, namun belum memiliki sistem pertahanan secanggih armada Air Force One yang selama ini digunakan Presiden AS.

Setelah pemerintah AS menerima informasi intelijen mengenai ancaman tersebut, Secret Service segera merekomendasikan agar Trump berpindah ke Air Force One lama yang dinilai memiliki perlindungan lebih memadai. Tidak lama kemudian, Trump mengumumkan akan meninggalkan Turki menggunakan pesawat kepresidenan lama.

Terungkapnya ancaman yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan itu menjelaskan alasan Gedung Putih bergerak cepat mengganti pesawat kepresidenan. Langkah tersebut juga menunjukkan besarnya perhatian pemerintah AS terhadap aspek keamanan Boeing 747-8 hibah Qatar yang sebelumnya didorong Trump agar segera dioperasikan.

Meski demikian, sejumlah sumber menegaskan informasi intelijen yang diterima pemerintah AS tidak menunjukkan bahwa kelompok proksi Iran secara khusus mengincar Boeing 747-8. Target utama tetap Trump, apa pun pesawat yang digunakannya.

Baca Juga :  PHK Pegawai Federal Meluas, Trump Sebut Demokrat Sebagai Biang Kerok

Seluruh narasumber yang mengetahui informasi tersebut berbicara kepada The New York Times dengan syarat identitas mereka dirahasiakan karena membahas informasi sensitif.

Gedung Putih menolak mengomentari laporan tersebut. Namun, seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan berbagai pernyataan publik Trump mengenai ancaman pembunuhan dari Iran telah menggambarkan situasi yang dihadapi pemerintah. Pejabat itu juga menyatakan yakin terhadap langkah-langkah pengamanan yang diterapkan untuk melindungi presiden beserta rombongannya.

Rincian ancaman itu bahkan tidak disebarluaskan secara luas di lingkungan pemerintahan. Sebagian pejabat hanya diberi tahu bahwa pergantian pesawat dilakukan sebagai langkah pencegahan karena adanya kekhawatiran terhadap Iran. Beberapa anggota penting Kongres AS juga disebut belum menerima penjelasan mengenai ancaman spesifik tersebut.

Pada awalnya, Trump menyatakan pergantian pesawat dilakukan agar personel militer AS yang berada di Inggris memiliki kesempatan melihat pesawat baru tersebut. Ia juga membantah bahwa keputusan itu berkaitan dengan persoalan keamanan.

Namun, setelah The New York Times melaporkan bahwa Secret Service memang merekomendasikan pergantian pesawat karena alasan keamanan, pemerintah AS meluncurkan penyelidikan atas dugaan kebocoran informasi.

Dalam proses tersebut, pemerintah sempat meminta kesaksian sejumlah jurnalis The New York Times di hadapan dewan juri serta meminta data telepon mereka dan anggota keluarga mereka. Departemen Kehakiman kemudian mencabut seluruh surat panggilan tersebut pada Kamis.

Belakangan, Trump mengakui Boeing 747-8 hibah Qatar memang belum memiliki sejumlah kemampuan yang dimiliki Air Force One lama. Saat ditanya mengenai belum adanya sistem pertahanan antirudal pada pesawat itu, Trump menjawab pesawat tersebut nantinya akan “dimaksimalkan.”

Baca Juga :  Brasil Tundukkan Haiti 3-0, Matheus Cunha Borong Dua Gol

Pada saat pergantian pesawat berlangsung, sempat beredar laporan bahwa Israel membagikan informasi intelijen kepada AS mengenai dugaan upaya Iran membunuh Trump. Namun, sebagian pejabat AS memandang informasi tersebut secara skeptis karena dinilai dapat menjadi upaya mendorong Washington memperluas serangan terhadap Iran.

Menurut sejumlah sumber, ancaman yang memicu pergantian Air Force One di Turki merupakan ancaman yang berbeda dengan informasi intelijen yang berasal dari Israel.

Ketika Trump berada di Ankara, Amerika Serikat diketahui kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Ankara sendiri berjarak sekitar 1.000 mil dari Teheran. Di sela-sela KTT NATO, Trump secara terbuka menyinggung ancaman terhadap dirinya.

“Mereka ingin menyingkirkan pemimpin Amerika Serikat, yaitu saya. Nama saya ada di setiap daftar mereka. Saya melihat pagi ini bahwa saya ada di setiap daftar mereka. Sejauh ini saya mungkin masih sedikit beruntung, tetapi mungkin keberuntungan itu tidak akan bertahan lama,” kata Trump.

Ancaman terhadap Trump bukanlah hal baru. Kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran telah lama disebut ingin membunuh Trump sejak militer AS menewaskan Jenderal Qassim Suleimani pada masa jabatan pertamanya sebagai presiden.

Di sisi lain, Trump selama bertahun-tahun juga mengeluhkan kondisi dua pesawat Air Force One yang telah digunakan sejak 1990. Menurutnya, pesawat tersebut sudah tidak lagi cukup representatif untuk digunakan dalam kunjungan kenegaraan ke luar negeri. Pejabat militer AS pun mengakui usia operasional kedua pesawat itu telah melampaui rencana penggunaan awal.

Sebagai solusi sementara, Qatar menyumbangkan Boeing 747-8 yang akan digunakan hingga Boeing menyelesaikan pengiriman Air Force One generasi baru yang mengalami keterlambatan.

Baca Juga :  Solusi Listrik Pulau Terpencil, Pakar AS Sodorkan Reaktor Nuklir Mini untuk Indonesia

Setelah Trump kembali ke Amerika Serikat, Gedung Putih menyatakan pesawat hibah Qatar itu akan dihentikan sementara operasinya selama sekitar satu bulan pada musim gugur untuk menjalani peningkatan kemampuan tambahan.

Air Force One yang baru sepenuhnya aman untuk perjalanan presiden, tetapi akan menerima peningkatan dan penyempurnaan tambahan pada musim gugur yang akan memakan waktu sekitar satu bulan. Selama periode tersebut, presiden akan menggunakan Air Force One yang lama,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.

Hingga kini, pemerintah AS belum menjelaskan secara rinci peningkatan kemampuan apa saja yang akan diselesaikan dalam kurun waktu tersebut.

Sementara itu, Direktur Secret Service Sean Curran mengungkapkan bahwa tingkat ancaman terhadap individu yang mendapat perlindungan lembaganya kini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah.

“Angka-angka yang kami lihat di lembaga ini, dan selama 24 tahun karier saya, belum pernah setinggi ini. Situasinya benar-benar di luar dugaan. Saya pikir lingkungan keamanan kini menjadi sangat bergejolak, bukan hanya bagi orang-orang yang kami lindungi, tetapi juga bagi para pejabat daerah. Gambaran ancaman yang kami hadapi sekarang adalah yang terbesar yang pernah saya saksikan,” kata Curran.

Curran sebelumnya memimpin tim pengamanan Trump di Secret Service dan menjadi salah satu agen yang berada di sisi Trump saat percobaan pembunuhan terhadapnya terjadi dalam kampanye di Butler, Pennsylvania, pada Juli 2024.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com