NARASITODAY.COM- Ramadan selalu identik dengan timun suri, buah yang kerap dijadikan bahan utama minuman berbuka puasa.
Namun, di Ramadan 1446 Hijriah ini, keberadaan pedagang timun suri di sepanjang jalan raya Kecamatan Nanggung, Leuwisadeng, dan Cigudeg, Kabupaten Bogor, tampak lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa para pedagang yang masih bertahan tetap menjajakan timun suri hasil panen petani setempat.
Pembeli warga Pasirgintung, Nanggung Alan, mengatakan meski tersedia beragam buah, kebanyakan pembeli lebih tertarik memburu timun suri.
Menurut Alan, jumlah pedagang timun suri tahun ini jauh berkurang, sementara permintaan tetap tinggi.
“Pembelinya banyak, tapi pasokan dari petani sedikit. Maka tak heran, Ramadan tahun ini timun suri jadi buruan masyarakat,” ujarnya, Minggu (2/3/2025).
Akibat kelangkaan tersebut, harga timun suri mengalami kenaikan signifikan.
Jika tahun lalu masih bisa didapat dengan harga lebih murah, kini per kilogramnya dibanderol Rp10 ribu hingga Rp12 ribu.
Meski lebih mahal, Alan mengaku tetap membelinya karena timun suri sudah menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa.
“Tak masalah, karena momentum Ramadan selain untuk berbagi rezeki, di sisi lain buah timun suri juga kebutuhan utama saat berbuka puasa,” tutupnya.***














