NARASITODAY.COM – Sepuluh tahun lalu, pasangan suami istri Hindarto (59) dan Khodijah Dede Indriany (50) melaporkan hilangnya putri mereka, Fidya Kamalindah. Kasus yang menghebohkan ini membuat keluarga tersebut merasakan penderitaan panjang, karena mereka percaya bahwa Fidya adalah korban penculikan.
Namun, seiring berjalannya waktu, Fidya akhirnya muncul untuk memberikan klarifikasi yang mengejutkan—bahwa dirinya bukanlah korban penculikan seperti yang selama ini diyakini oleh orang tuanya.
Kisah bermula pada 26 November 2015, ketika Fidya, yang saat itu baru lulus SMA dan merupakan seorang atlet taekwondo, meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi ke warnet mencetak beberapa dokumen. Hindarto tidak merasa curiga saat itu. Namun, hingga larut malam, Fidya tak kunjung pulang dan ponselnya pun tidak dapat dihubungi.
“Akhirnya lapor kehilangan, ke polsek. Tapi nggak diterima, katanya karena anaknya ini sudah dewasa. Langsung ke Polrestabes, nggak diterima juga, cuma dikasih saran ‘sabar saja, Pak, nanti juga pulang’ karena dewasa,” kenang Hindarto, mengingat kembali kekecewaan yang ia rasakan saat itu, seperti yang dilansir oleh detikJabar pada Kamis (13/3/2025).
Tahun berganti, dan pada Februari 2016, Hindarto menerima kabar tak terduga. Seorang pria yang kemudian diketahui sebagai terduga pelaku penculikan menghubungi Hindarto dan meminta tebusan sebesar Rp 50 juta.
Tanpa berpikir panjang, Hindarto pun menyetujui permintaan itu. Namun, dalam pertemuan yang tak terduga, pria tersebut tak dapat mengelak ketika para guru taekwondo Fidya ikut serta menemani Hindarto. Ternyata, pria itu bukanlah penculik, melainkan suami dari Fidya yang telah menikah dengannya secara diam-diam.
“Pelaku akhirnya mengakui perbuatannya dan diserahkan ke polisi. Namun, ketika diperiksa, datang empat orang membawa buku nikah yang tercatat pernikahan Fidya dengan pria tersebut. Mereka menikah di KUA Rawalumbu, Kota Bekasi,” ungkap Hindarto.
Kejadian itu membuat polisi memutuskan untuk membebaskan pelaku, mengingat pernikahan mereka telah tercatat secara resmi. Pada akhirnya, kasus ini pun dihentikan dengan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) dari Polda Jabar.
Kini, setelah satu dekade berlalu, Fidya Kamalindah, yang kini berusia 30 tahun, muncul untuk mengungkapkan versi ceritanya. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram, Fidya menanggapi pemberitaan mengenai dirinya. “Yang pertama terkait kasus penculikan, saya mau bilang bahwa itu adalah fitnah,” katanya tegas, memberikan klarifikasi kepada publik.
Dalam video tersebut, Fidya menjelaskan bahwa ia keluar rumah atas keinginannya sendiri, tanpa ada paksaan dari siapapun. Ia memilih pergi setelah mengalami kekerasan fisik dan emosional dari orang tuanya selama bertahun-tahun, terutama saat menjalani karier sebagai atlet taekwondo.
“Saya baru berani keluar rumah di usia 21 tahun, setelah bertahun-tahun dapat siksaan lahir batin. Karena saya mikir saya udah besar, saya udah berani, karena saat itu saya punya tabungan juga dari jualan online,” ujarnya.
Setelah meninggalkan rumah, Fidya bertemu dengan seorang pria yang akhirnya menjadi suaminya. Mereka menikah secara sah di bawah tangan wali hakim di Bekasi, dan kini sudah dikaruniai seorang anak. “Saya menikah dengan beliau di bawah tangan wali hakim di Bekasi saat itu dan sekarang saya sudah punya anak,” tambah Fidya.
Fidya juga mengungkapkan bagaimana orang tuanya akhirnya menyadari bahwa ia tidak diculik. “Seiring berjalannya waktu, melihat kerasnya gimana Babeh dan orang-orang yang di belakang Babeh ini gimana kerasnya mereka, akhirnya mereka sendiri yang berbesar hati. Oh, ternyata Fidya ini nggak diculik, kok, Fidya ini nggak ada diapa-apain sama suaminya, bahkan Fidya ini dengan sadar keluar dari rumah,” ungkapnya.
Fidya pun menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas perbincangan yang timbul terkait dirinya. Melalui video tersebut, ia berharap agar orang tuanya dan masyarakat dapat menerima kehidupannya yang baru, dan ia hanya ingin hidup damai bersama keluarganya. “Saya cuma pengen hidup damai, semoga orang tua saya bisa menerima kehidupan saya yang sekarang,” tutupnya.***














