NARASITODAY.COM – Menjadi hari yang istimewa bagi Kabupaten Bogor. Bukan sekadar hari biasa, melainkan sebuah momen sakral dan emosional ketika artefak bersejarah yang selama ini hanya menjadi cerita dan catatan usang, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, akan kembali menginjakkan “kaki” di Bumi Tegar Beriman.
Suara gamelan dan tabuhan kendang seolah bersiap mengiringi kedatangan simbol kebesaran masa lalu, mahkota yang pernah menjadi representasi otoritas raja-raja Pajajaran.
Antusiasme membuncah di dada Bupati Bogor, Rudy Susmanto. Baginya, kedatangan mahkota ini jauh melampaui sekadar kirab budaya. Ini adalah “kepulangan” simbol kejayaan tanah Pajajaran, sebuah kerajaan besar yang menjadi cikal bakal Bogor, yang selama bertahun-tahun hanya bisa mereka bayangkan melalui lembaran buku sejarah dan cerita lisan.
“Kedatangan Mahkota Binokasih bukan dari Pemkab Bogor yang meminta, bahkan kami meminta dari beberapa tahun yang lalu tidak pernah terealisasi,” ungkap Rudy kepada para wartawan, menyiratkan betapa tak terduganya kabar baik ini. Ia bahkan menyebutnya sebagai kejutan yang datang tanpa permisi.
“Tiba-tiba dari Keraton Sumedang Larang bahwa Mahkota Binokasih akan melaksanakan kirab dan akan mampir di Kabupaten Bogor,” ujarnya dengan nada takjub.
Mahkota yang diyakini sebagai lambang kekuasaan para penguasa Pajajaran itu akan melintasi wilayah Bogor, disambut bukan dengan kemewahan yang berlebihan, melainkan dengan kesakralan yang menyentuh relung jiwa masyarakat. Pemkab Bogor telah mempersiapkan penyambutan dengan balutan nuansa budaya Sunda yang kental, jauh dari hingar bingar pertunjukan megah yang kehilangan makna.
“Kami mempersiapkan tidak dengan cara yang mewah, tapi dengan cara yang sakral. Disambut oleh masyarakat Kabupaten Bogor. Inilah asal muasal cikal bakal Kerajaan Pajajaran sebelum Kabupaten Bogor berdiri,” tegas Rudy, menekankan esensi dari acara penyambutan ini. Lebih dari sekadar mengarak sebuah mahkota, ini adalah perjalanan batin sebuah generasi yang merindukan sentuhan kembali dengan jejak leluhurnya.
Menurut Rudy, penyambutan sakral ini adalah wujud nyata upaya pelestarian budaya yang semakin tergerus oleh derasnya arus modernisasi. “Tujuannya hanya satu, kita sama-sama mengenang dan melestarikan sejarah budaya yang ada di Kabupaten Bogor, yaitu tanah Pajajaran,” tuturnya dengan penuh harap.
Sebuah kebetulan yang terasa begitu indah, kedatangan Mahkota Binokasih ini bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Bagi Pemkab Bogor, ini adalah momen yang tepat untuk secara bersamaan menggaungkan kembali kebanggaan terhadap warisan tradisi dan menghormati perjuangan emansipasi wanita.
Sebagai bentuk penghormatan ganda, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Bogor akan mengenakan pakaian adat Sunda pada hari yang bersejarah ini. Ini adalah simbol persatuan dalam mengenang jasa para pahlawan, baik Kartini dengan visinya tentang kemajuan perempuan, maupun para raja Sunda yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah tatar Pasundan.
“Dresscode-nya kebetulan tanggal 21 Hari Kartini. Maka pada saat Hari Kartini, semua ASN, semua pemerintah Kabupaten Bogor, kita pakai baju adat Sunda bersama-sama,” kata Rudy, menjelaskan harmonisasi antara peringatan nasional dan penghormatan kearifan lokal.
Kedatangan Mahkota Binokasih di Bogor bukan sekadar peristiwa seremonial. Ini adalah jembatan waktu yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan. Ini adalah kesempatan bagi generasi saat ini untuk merasakan denyut nadi sejarah, untuk belajar dari kejayaan leluhur, dan untuk mewariskannya kepada generasi mendatang.
Di tengah alunan gamelan dan sambutan khidmat warga, Mahkota Binokasih akan menjadi pengingat akan akar budaya yang kuat, identitas yang membanggakan, dan semangat untuk terus melestarikan warisan luhur tanah Pajajaran di Bumi Tegar Beriman.***
sumber:timetoday.id














