NARASITODAY.COM – Langit Desa Bojong Rangkas, Ciampea, Bogor, Jawa Barat, menumpahkan air mata. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti membuat aliran anak Sungai Ciampea tak mampu lagi menampung debit air, meluap dan mengirimkan gelombang banjir yang merendam rumah-rumah warga serta sebuah pondok pesantren.
“Dikarenakan hujan intensitas tinggi cukup lama dan adanya penyumbatan Bangunan bantaran aliran anak Sungai Ciampea, sehingga terjadi banjir yang berdampak pada rumah warga dan pondok pesantren,” ungkap Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, M Adam Hamdani, menjelaskan kronologi kejadian pilu ini pada Selasa (29/4/2025).
Ketinggian air yang mencapai 1,5 meter dalam semalam itu sontak mengubah suasana desa menjadi mencekam. Ratusan jiwa, termasuk para santri yang tengah menimba ilmu, terpaksa menghadapi terjangan air bah.
“Korban terdampak rumah warga sebanyak 40 KK (kartu keluarga) atau 160 jiwa, santri 250 jiwa, dan santriwati 50 jiwa,” rinci Adam, menggambarkan betapa luasnya dampak banjir kali ini.
Di tengah kepanikan dan kerugian yang dialami warga, uluran tangan segera datang. Adam memastikan bahwa bantuan logistik telah didistribusikan kepada mereka yang terdampak. Namun, bantuan sesaat ini tentu tak cukup. Ada luka yang lebih dalam yang perlu disembuhkan, dan ancaman serupa yang membayangi di masa depan perlu diantisipasi.
“Situasi akhir untuk saat ini debet air sudah surut dan material pasca banjir sudah dibersihkan oleh tim gabungan,” kata Adam, memberikan sedikit kabar lega. Namun, ia menekankan perlunya solusi jangka panjang agar tangis Sungai Ciampea tak kembali membasahi desa ini.
“Dibutuhkan penanganan lebih lanjut dari pihak atau dinas terkait dalam menormalisasikan anak Sungai Ciampea,” pungkasnya, menyuarakan harapan agar pemerintah daerah segera turun tangan mengatasi akar permasalahan banjir ini.
Banjir di Bojong Rangkas bukan sekadar bencana alam biasa. Ia adalah cerminan rapuhnya keseimbangan antara manusia dan alam. Hujan yang seharusnya menjadi berkah, justru berubah menjadi petaka akibat penyumbatan aliran sungai.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan menata ruang dengan bijak, agar air yang mengalir tak lagi membawa duka bagi sesama.
Harapan kini tertumpu pada tindakan nyata untuk menormalisasi Sungai Ciampea, sehingga senyum warga Bojong Rangkas dapat kembali merekah tanpa dihantui bayang-bayang banjir di malam-malam berikutnya.***














