NARASITODAY.COM – Di dunia hiburan, panggung adalah rumah kedua bagi musisi. Tapi bagi Kehlani, penyanyi asal California yang kerap menyuarakan isu-isu kemanusiaan, panggung bisa juga menjadi medan kontroversi.
Salah satunya, saat konsernya di Cornell University, New York, dibatalkan secara mendadak. Bukan karena alasan teknis atau kesehatan melainkan karena sikap politiknya.
Acara itu seharusnya menjadi bagian dari Slope Day, festival musik tahunan kampus bergengsi tersebut. Namun, Kehlani mengaku pihak kampus menyatakan “marah dan kecewa”, bukan karena batal tampil, tetapi karena apa yang ia wakili.
“Saya anti-genosida, anti-pembantaian warga sipil, bukan anti-Yahudi,” ujar Kehlani dalam sebuah video yang ia unggah di media sosial, Minggu (4/5/2025).
“Ini ya, klarifikasinya langsung dari mulut saya,” tegasnya.
Kemarahan itu, menurut Kehlani, berakar dari keberaniannya menyuarakan dukungan untuk Palestina. Sebelumnya, ia sempat mengunggah simbol-simbol solidaritas Palestina di video klip lagu “Next 2 U”, termasuk kalimat “long live the intifada”, yang kemudian menuai kecaman luas dan label antisemit dari sebagian kalangan.
Kehlani membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa kritiknya bukan tertuju pada komunitas Yahudi, melainkan kebijakan pemerintahan Israel terhadap rakyat Palestina.
“Saya masih bekerja sama dengan organisasi Yahudi progresif seperti Jewish Voice for Peace,” katanya.
Di tengah badai kritik, Kehlani tak tinggal diam. Ia tetap berdiri bersama komunitas yang menurutnya tertindas. Sebelumnya, ia juga pernah menjual kaos buatan pengrajin Palestina untuk menggalang dana bagi lembaga kemanusiaan Operation Olive Branch.
Namun sikap vokalnya membuatnya menjadi sasaran tajam media konservatif dan sejumlah kalangan di dunia akademik Amerika. Bahkan Michael Kotlikoff, Presiden Cornell University, menyatakan dalam pernyataannya bahwa acara Slope Day seharusnya “menyatukan, bukan memecah belah”.
Kini, Kehlani memilih tetap melangkah. Meski panggung di kampus dibatalkan, semangatnya untuk bersuara tidak padam. Ia tengah fokus menyelesaikan album barunya, yang kemungkinan besar akan tetap sarat dengan pesan sosial dan identitas.***














