Napak Tilas Sejarah, Gubernur Dedi Mulyadi Berkantor di Gedung Bersejarah Pakuan Pajajaran

0
Gedung Bakorwil Bogor

NARASITODAY.COM – Di antara suasana sejuk dan keseharian Kota Bogor yang dinamis, sebuah bangunan tua yang sarat sejarah tengah bersiap menyambut peran barunya. Gedung Bakorwil yang berdiri megah di Jalan Ir. H. Juanda No. 4, Kelurahan Pabaton, Bogor Tengah, sedang menjalani proses revitalisasi untuk menjadi kantor Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Gedung yang dibangun pada 1908 itu awalnya menjadi rumah dan kantor Asisten Residen Buitenzorg pada masa kolonial Belanda. Pernah pula menjadi Kantor Pembantu Gubernur (1928–1978) dan Kantor Koordinasi Wilayah Bogor (sejak 2000), kini bangunan tersebut akan mengemban identitas baru dengan nama yang menggema kuat: Gedung Pakuan Pajajaran.

Baca Juga :  Kebijakan Subjektif KLH Berdampak Kurang Baik Pada Iklim Investasi di Puncak Bogor

Tanda-tanda perubahan itu terlihat jelas. Di halaman gedung, sejumlah pekerja sibuk melakukan pengecatan, membersihkan halaman, hingga membongkar pagar pembatas antara wilayah Bakorwil dan Samsat Kota Bogor. Alat berat turut dikerahkan, menandai dimulainya revitalisasi besar-besaran.

Ruang dalam gedung pun akan diberi nama baru: Bale Pakuan Pajajaran, mencerminkan semangat pelestarian budaya Sunda yang begitu lekat dengan Dedi Mulyadi.

Kepala UPTD Pusat Pengelolaan Pendapatan Daerah (PPPD) Samsat Kota Bogor, Wawan Sudrajat, turut memberikan penjelasan terkait perubahan tersebut. Ia menyebut bahwa Pemprov Jawa Barat tengah mempersiapkan lokasi sebagai bagian dari Kantor Gubernur.

Baca Juga :  Pekerja Informal Merajalela, Pemerintah Diminta Segera Perkuat Jaminan Sosial

“Penataan pada gedung memang tengah dilakukan Pemprov Jabar demi untuk menyiapkan Kantor Gubernur Bale Pakuan Padjajaran,” ujar Wawan.

Bagian halaman yang kini tengah dibenahi nantinya akan dijadikan lahan parkir, tidak hanya untuk kendaraan dinas Gubernur, tapi juga bagi armada layanan publik. “Itu untuk parkir kendaraan Pemadam Kebakaran (Damkar), beko (alat pengeruk), truk operasional bekonya, dan RS keliling berupa ambulans. Kendaraan itu nanti akan ada di sana dan kalau nanti masyarakat membutuhkan bisa segera diturunkan,” ungkapnya lebih lanjut.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Bahas Pengembangan Jalur Kereta di Selatan dan Barat, Puncak hingga Jasinga Masuk Rencana Prioritas

Tak berhenti di situ, bangunan cek fisik dan TNKB pun dibongkar untuk membuka akses ke area parkir yang terhubung ke Bogor Creative Center (BCC), menjadikan kompleks ini tak hanya sebagai pusat pemerintahan, tapi juga kreativitas masyarakat.

Keputusan Gubernur Dedi Mulyadi untuk berkantor di kota yang pernah menjadi pusat Kerajaan Pajajaran ini tampaknya bukan semata pertimbangan geografis atau administratif. Lebih dari itu, ia sedang menyulam benang sejarah dengan masa depan, mempertemukan kejayaan masa lalu dengan pelayanan publik masa kini.***