SAATNYA MILENIAL BERTANI: STRATEGI MENYELAMATKAN PANGAN NEGERI

0
Dewi Satyaweni, Mahasiswa Semester II Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh : Dewi Satyaweni, Mahasiswa Semester II Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

KETAHANAN pangan merupakan fondasi utama yang menentukan stabilitas dan keberlanjutan suatu bangsa. Indonesia, sebagai negara dengan lebih dari 270 juta penduduk dan lahan pertanian yang luas, sangat bergantung pada sektor agraria untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Namun, tantangan yang dihadapi sektor pertanian kini semakin kompleks. Perubahan iklim menyebabkan pola cuaca tidak menentu, sehingga gagal panen menjadi ancaman nyata di banyak daerah.

Selain itu, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri, perumahan, dan infrastruktur lain terus terjadi, menggerus lahan subur yang seharusnya menjadi sumber produksi pangan.

Di sisi lain, minat generasi muda untuk menjadi petani menurun drastis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan rata-rata usia petani di Indonesia hampir mencapai 50 tahun, dan proporsi petani berusia di atas 55 tahun meningkat dari 20% pada 2013 menjadi 23,3% pada 2023.

Jika fenomena ini tidak segera diatasi, Indonesia berisiko mengalami kekurangan tenaga kerja pertanian yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional.

Salah satu persoalan mendasar yang membelit sektor pertanian adalah lambatnya proses regenerasi petani. Banyak anak muda lebih memilih bekerja di sektor formal atau informal di perkotaan, yang dianggap lebih menjanjikan dari segi pendapatan dan status sosial. Profesi petani masih sering dipandang sebelah mata, dianggap kotor, melelahkan, dan kurang bergengsi.

Stigma ini menyebabkan desa-desa kehilangan generasi mudanya, sehingga lahan pertanian yang ada tidak digarap secara optimal. Padahal, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Pada Februari 2024, sekitar 28,5% dari total tenaga kerja nasional bekerja di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Namun, tanpa adanya regenerasi, angka ini diprediksi akan terus menurun seiring bertambahnya usia petani yang ada saat ini. Jika tidak ada upaya serius untuk menarik minat generasi muda, produktivitas pertanian Indonesia bisa menurun tajam dalam satu dekade ke depan.

Baca Juga :  Kelompok Jaringan Kejahatan Pencurian Lintas Daerah Berhasil Diungkap Polres Bogor 

Di tengah tantangan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar dari bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif, khususnya generasi milenial, sangat melimpah.

Generasi ini dikenal adaptif terhadap teknologi, inovatif, dan terbuka terhadap perubahan. Berdasarkan data BPS tahun 2023, terdapat sekitar 6,18 juta petani milenial di Indonesia, atau sekitar 22% dari total petani nasional. Meski jumlah ini masih jauh dari cukup, kehadiran petani muda membawa harapan baru bagi modernisasi dan keberlanjutan sektor pertanian.

Banyak contoh petani muda yang sukses mengelola pertanian berbasis teknologi, seperti penggunaan aplikasi digital untuk manajemen lahan, pemasaran online, hingga penerapan sistem pertanian presisi.

Di Yogyakarta, misalnya, kelompok petani muda berhasil mengembangkan pertanian organik dengan sistem pemasaran berbasis komunitas, sehingga hasil panen mereka bisa langsung dijual ke konsumen tanpa perantara. Inovasi semacam ini terbukti meningkatkan pendapatan petani dan memperluas akses pasar.

Generasi milenial memiliki keunggulan dalam mengadopsi teknologi digital untuk pertanian. Inovasi seperti smart greenhouse yang memanfaatkan sensor untuk mengatur suhu, kelembapan, dan nutrisi tanaman terbukti mampu meningkatkan hasil panen dan menekan biaya produksi.

Penggunaan drone untuk pemantauan lahan serta aplikasi digital untuk pemasaran hasil pertanian juga semakin populer di kalangan petani muda. Di beberapa daerah, petani milenial yang menerapkan sistem pertanian cerdas mampu memperoleh keuntungan dua kali lipat dibanding metode konvensional.

Selain itu, pemasaran melalui platform e-commerce dan media sosial membantu petani menjangkau konsumen yang lebih luas, bahkan hingga ke luar daerah dan mancanegara. Contoh lainnya adalah petani muda di Jawa Barat yang memanfaatkan aplikasi pertanian untuk memantau pertumbuhan tanaman secara real time, sehingga dapat mengambil keputusan lebih cepat dan tepat dalam mengelola lahan.

Baca Juga :  APTI Minta Pemerintah Batalkan Aturan Turunan PP Kesehatan, Petani Tembakau Khawatir Pendapatan Tertekan

Agar lebih banyak milenial tertarik untuk bertani, diperlukan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat pendidikan dan pelatihan pertanian berbasis teknologi.

Kurikulum di sekolah dan universitas harus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk pengenalan konsep smart farming, agribisnis, dan kewirausahaan pertanian sejak dini.

Pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat perlu berkolaborasi untuk menyediakan pelatihan yang relevan dan aksesibel. Selain itu, akses permodalan dan lahan harus diperluas melalui program kredit usaha rakyat (KUR) khusus pertanian, subsidi alat dan mesin pertanian, serta reforma agraria yang memudahkan petani muda memperoleh lahan.

Pengembangan infrastruktur teknologi dan pasar digital juga penting agar petani muda dapat memanfaatkan peluang ekonomi digital. Kampanye di media sosial, film, dan konten kreatif perlu digalakkan untuk mengubah citra profesi petani menjadi pekerjaan yang modern, cerdas, dan berkontribusi besar bagi bangsa.

Pembentukan komunitas petani muda di berbagai daerah akan memperkuat jejaring, berbagi pengetahuan, dan memperluas akses ke pasar serta teknologi.

Keterlibatan milenial dalam pertanian membawa dampak positif yang signifikan. Pertama, produktivitas pertanian meningkat berkat penerapan teknologi dan metode pertanian modern.

Kedua, diversifikasi produk pertanian berkembang pesat karena milenial cenderung lebih kreatif dalam mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah, seperti makanan sehat, produk organik, atau olahan pangan inovatif.

Ketiga, pertanian menjadi lebih ramah lingkungan karena generasi muda lebih peduli pada isu keberlanjutan dan penggunaan sumber daya secara efisien. Selain itu, keterlibatan milenial juga memperkuat ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa pada 2024, produksi padi dan jagung nasional meningkat signifikan, bahkan cadangan beras pemerintah mencapai rekor 3,5 juta ton berkat kontribusi petani lokal, tanpa perlu impor beras medium.

Baca Juga :  Wataru Endo Buktikan Kemampuannya di Lapangan, Liverpool Tunjukkan Kebanggaan Setelah Kemenangan Jepang

Hal ini membuktikan bahwa jika dikelola dengan baik, sektor pertanian Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Meski demikian, jalan menuju pertanian modern yang digerakkan oleh milenial tidaklah mudah. Tantangan seperti akses lahan, modal, infrastruktur, serta perubahan pola pikir masyarakat masih harus dihadapi. Banyak petani muda yang kesulitan mendapatkan lahan karena harga tanah yang tinggi dan keterbatasan akses informasi.

Selain itu, proses birokrasi untuk mendapatkan bantuan modal atau pelatihan masih kerap berbelit-belit. Namun, dengan dukungan kebijakan yang tepat, kolaborasi lintas sektor, dan semangat inovasi generasi muda, hambatan tersebut dapat diatasi. Pemerintah perlu terus memperkuat program-program seperti Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), Petani Milenial, dan berbagai inisiatif lain yang bertujuan mencetak petani muda yang kompeten dan mandiri.

Pelibatan swasta dan dunia usaha dalam mendukung ekosistem pertanian modern sangat diperlukan, misalnya melalui kemitraan, pendampingan, dan investasi pada startup agritech.

Sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang terhadap profesi petani. Bertani bukanlah pilihan terakhir, melainkan keputusan strategis yang sangat penting bagi masa depan bangsa. Generasi milenial bukan sekadar penonton, tetapi harus menjadi pelaku utama dalam transformasi pertanian Indonesia.

Menyelamatkan pangan negeri adalah tanggung jawab bersama, dan hanya bisa tercapai jika generasi muda mau turun tangan. Mari kita dorong lebih banyak milenial untuk kembali ke tanah, bukan karena terpaksa, tetapi karena sadar bahwa masa depan Indonesia digenggam lewat cangkul dan teknologi.

Dengan semangat, inovasi, dan kolaborasi, kita yakin pertanian Indonesia akan bangkit, mandiri, dan berdaulat. Inilah saatnya milenial bertani, demi menyelamatkan pangan dan masa depan negeri. ***