NARASITODAY.COM – Mengasuh dan merawat anak bukanlah tugas satu pihak saja. Di era modern, peran sebagai orang tua sudah semakin setara, di mana baik suami maupun istri memiliki tanggung jawab yang sama dalam membesarkan anak. Namun pada kenyataannya, masih banyak suami yang merasa kurang percaya diri atau bahkan bingung bagaimana cara terlibat secara aktif dalam proses pengasuhan.
Rasa tidak percaya diri ini bisa muncul karena berbagai alasan mulai dari minimnya pengalaman, budaya patriarki yang membentuk persepsi bahwa tugas mengasuh anak adalah “wilayah ibu”, hingga rasa takut melakukan kesalahan saat merawat si kecil.
Sebagai pasangan, istri bisa berperan penting dalam membangun kepercayaan diri suami agar ia merasa mampu dan nyaman menjalankan peran sebagai ayah. Berikut adalah lima cara efektif yang dapat dilakukan istri untuk mendorong keterlibatan suami secara positif dalam pengasuhan:
- Mulai dengan Komunikasi yang Jujur dan Terbuka
Langkah pertama untuk menciptakan keterlibatan suami dalam pengasuhan adalah membangun komunikasi yang sehat dan terbuka. Bicarakan secara langsung mengenai harapan, tantangan, serta pembagian peran dalam merawat anak. Hindari asumsi bahwa suami akan langsung tahu apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, ajak suami untuk duduk bersama dan diskusikan bagaimana kalian bisa saling mendukung satu sama lain.
Komunikasi yang jujur akan membangun rasa saling pengertian dan kepercayaan, dua hal penting dalam kerja sama pengasuhan. Jangan ragu untuk menanyakan bagaimana perasaan suami ketika mengurus anak atau apakah ia memiliki kekhawatiran tertentu yang perlu dibahas bersama.
- Tunjukkan Dukungan dan Beri Apresiasi yang Tulus
Kepercayaan diri suami bisa tumbuh secara perlahan jika ia merasa dihargai dan tidak dihakimi. Saat suami mencoba mengganti popok, menenangkan anak yang menangis, atau menyuapi anak meski belum sempurna, berikan pujian atau ungkapan terima kasih yang tulus. Misalnya, ucapkan, “Terima kasih ya sudah bantu ganti popok. Kamu makin mahir!”
Pujian-pujian kecil ini akan membangun rasa percaya diri dan memberikan dorongan positif untuk terus terlibat. Ingat, apresiasi bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga tentang menghargai usaha yang dilakukan.
- Libatkan Suami Sejak Awal dalam Aktivitas Pengasuhan
Semakin dini seorang ayah terlibat dalam pengasuhan, semakin besar kemungkinan ia merasa percaya diri menjalankan peran tersebut. Ajak suami untuk ikut serta dalam kegiatan sehari-hari yang sederhana, seperti memandikan bayi, menyuapi makanan, mengganti popok, membacakan buku cerita sebelum tidur, hingga bermain bersama anak di taman.
Dengan memberikan kesempatan langsung untuk merawat dan berinteraksi dengan anak, suami akan belajar mengenali kebutuhan anak dan secara alami akan membangun ikatan emosional yang lebih kuat. Keterlibatan semacam ini juga memberi pesan bahwa pengasuhan bukanlah tanggung jawab eksklusif ibu.
- Berikan Akses dan Ruang untuk Belajar
Tak semua orang langsung merasa kompeten dalam mengasuh anak, termasuk para ayah. Maka dari itu, bantu suami untuk memperluas pengetahuan dan keterampilannya. Anda bisa mengajaknya mengikuti kelas parenting bersama, menonton video edukatif, atau membaca buku tentang perkembangan anak dan pengasuhan.
Berikan informasi yang relevan, tapi pastikan itu disampaikan dengan cara yang tidak menggurui. Ajak suami berdiskusi tentang cara terbaik mendampingi anak saat tantrum, atau bagaimana menerapkan pola tidur yang sehat. Ketika suami merasa diberdayakan dengan pengetahuan, ia akan lebih siap mengambil peran aktif.
- Hindari Kritik yang Menghakimi
Salah satu hal yang paling bisa mematahkan semangat adalah kritik berlebihan terhadap cara suami mengasuh anak. Misalnya, menegur dengan nada tajam karena suami salah memakaikan popok atau tidak membedakan botol susu yang sudah dicuci. Meskipun maksudnya baik, kritik seperti ini bisa membuat suami merasa tidak dipercaya atau bahkan takut untuk mencoba lagi.
Sebaliknya, berikan masukan secara lembut dan membangun. Gunakan kalimat positif seperti, “Boleh aku bantu tunjukkan caranya? Biar nanti lebih gampang,” daripada langsung menyalahkan. Biarkan suami belajar melalui proses, sama seperti ibu juga pernah belajar.
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan memberikan dampak positif bukan hanya bagi perkembangan anak, tetapi juga untuk keharmonisan keluarga secara keseluruhan. Anak yang tumbuh dengan kedekatan emosional dari kedua orang tua akan memiliki rasa aman, percaya diri, dan lebih siap menghadapi dunia luar.
Sebagai istri, mendukung dan mendorong suami untuk lebih aktif dalam mengasuh anak adalah bentuk kerja sama yang memperkuat ikatan keluarga. Dengan komunikasi yang terbuka, apresiasi yang tulus, serta kesabaran dalam mendampingi proses belajar, setiap pasangan bisa menjadi tim yang solid dalam perjalanan parenting.***











