NARASITODAY.COM – Bunyi gemuruh dari perut, yang dalam dunia medis disebut sebagai “borborygmi”, kerap dianggap sebagai tanda bahwa tubuh sedang meminta asupan makanan.
Namun, fakta medis menunjukkan bahwa suara perut yang muncul secara berlebihan tidak selalu terkait dengan rasa lapar. Dalam banyak kasus, bunyi-bunyi tersebut bisa berasal dari aktivitas normal pencernaan, perubahan pola makan, hingga gangguan kesehatan yang perlu penanganan dokter.
Fenomena ini tak jarang membuat seseorang merasa tidak nyaman, terutama di lingkungan sosial. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa saja faktor yang dapat memicu perut berbunyi dengan intensitas tinggi agar bisa mengambil langkah yang tepat. Berikut ini adalah lima penyebab utama yang patut diwaspadai:
1. Penumpukan Gas di Saluran Pencernaan
Gas yang terperangkap dalam usus dapat menjadi sumber utama suara yang muncul dari perut. Makanan seperti brokoli, kubis, kacang-kacangan, dan minuman bersoda mengandung senyawa yang dapat meningkatkan produksi gas selama proses pencernaan.
Gerakan gas ini mendorong dinding usus dan menghasilkan suara yang kadang keras, apalagi jika disertai kembung dan rasa ingin bersendawa. Meskipun tergolong normal, jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat mengindikasikan gangguan intoleransi makanan atau gangguan pencernaan ringan.
2. Penyumbatan Usus
Dalam kasus yang lebih serius, bunyi perut berlebihan bisa menjadi tanda adanya obstruksi atau penyumbatan pada saluran usus. Ketika cairan dan gas tidak dapat bergerak bebas melalui sistem pencernaan, usus bereaksi dengan meningkatkan gerakan peristaltik sebagai usaha untuk mendorong isi saluran keluar.
Hasilnya adalah suara perut yang lebih nyaring dan berulang. Jika disertai rasa nyeri yang tajam, perut kembung ekstrem, atau tidak buang air besar selama beberapa hari, segera cari bantuan medis karena kondisi ini berisiko mengancam nyawa.
3. Infeksi dan Peradangan Saluran Cerna
Beberapa penyakit yang melibatkan sistem pencernaan seperti diare akut, gastroenteritis, atau bahkan penyakit Crohn dapat menyebabkan peningkatan aktivitas usus. Saat usus dalam kondisi meradang, gerakannya menjadi tidak beraturan dan cenderung lebih aktif, yang menyebabkan suara gemuruh lebih sering terdengar.
Gejala yang biasanya menyertai meliputi mual, muntah, sakit perut, demam, dan perubahan pola buang air besar. Diagnosis medis sangat dianjurkan untuk menentukan jenis infeksi dan pengobatan yang sesuai.
4. Konsumsi Makanan Penghasil Gas dan Pemanis Buatan
Makanan olahan, tinggi serat, atau mengandung pemanis buatan seperti sorbitol, xylitol, dan fruktosa dapat memicu fermentasi oleh bakteri usus, menghasilkan gas sebagai produk sampingan. Kondisi ini sering terjadi pada mereka yang sensitif terhadap makanan manis rendah kalori atau yang mengonsumsi produk bebas gula secara berlebihan.
Meskipun gejalanya tidak berbahaya, suara perut yang berulang dapat membuat seseorang tidak nyaman dalam aktivitas sehari-hari dan sebaiknya diatasi dengan mengatur pola makan.
5. Menelan Udara Secara Tidak Disengaja
Menelan udara atau “aerophagia” dapat terjadi saat seseorang makan terlalu cepat, berbicara sambil makan, mengunyah permen karet, atau minum minuman berkarbonasi. Udara yang masuk ke saluran pencernaan tidak dapat diserap oleh tubuh dan akhirnya bergerak dalam usus bersama makanan.
Akibatnya, muncullah suara-suara seperti gemuruh atau dentingan dari perut. Untuk menghindarinya, disarankan untuk makan perlahan dan memperhatikan kebiasaan saat makan serta minum.
Perut berbunyi memang tidak selalu menandakan masalah serius, tetapi jika suara tersebut muncul dengan frekuensi tinggi disertai gejala fisik lain seperti nyeri atau gangguan pencernaan, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis. Mengenali sumber bunyi bisa menjadi langkah awal menjaga kesehatan sistem cerna dan meningkatkan kualitas hidup.***














