NARASITODAY.COM – Fenomena performative male belakangan ini banyak dibicarakan, tidak hanya di media sosial tapi juga mulai merambah ke lingkungan profesional.
Di dunia kerja, performative male merujuk kepada pria yang secara sadar menunjukkan sikap dan perilaku tertentu yang dianggap menarik atau disukai, seringkali untuk menciptakan citra khusus atau mendapatkan pengakuan. Namun ciri-ciri ini kerap tidak disadari oleh rekan kerja, padahal dapat memengaruhi dinamika kerja dan hubungan antar kolega.
Berikut lima gejala performative male di dunia kerja yang perlu dikenali agar lingkungan kerja tetap sehat dan produktif:
1. Selalu Berusaha Mendominasi Rapat
Pria dengan sikap performative male biasanya berusaha menguasai diskusi dan mengambil alih pembicaraan saat rapat. Mereka ingin terlihat paling tahu banyak dan dominan sehingga sering kali membuat rekan lain kesulitan menyampaikan pendapatnya. Sikap ini sering tersembunyi di balik alasan ingin memberikan kontribusi positif, padahal bisa jadi bentuk pencitraan agar tampak berkuasa.
2. Mengambil Kredit atas Kerja Tim
Performa laki-laki ini kerap terlihat mengambil pujian atau penghargaan atas hasil kerja bersama, bahkan ketika kontribusinya minim. Mereka ingin mendapatkan perhatian dan diakui sebagai sosok utama di balik keberhasilan grup, tanpa memberikan penghargaan yang adil pada anggota tim lain.
3. Memperlihatkan Ketertarikan Berlebih pada Penampilan dan Gaya Hidup
Performative male di tempat kerja sering mengedepankan penampilan yang stylish dan terlihat “kekinian” agar menarik perhatian, mulai dari pakaian, aksesori, hingga gadget. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari “pertunjukan” agar terlihat beda dan mendapat impresi positif, bukan semata karena kebutuhan profesional.
4. Berusaha Tampil Peka dan Intelektual secara Berlebihan
Di dunia kerja sekarang, sifat peka terhadap isu sosial dan kemampuan berpikir kritis sangat dihargai. Namun, pria dengan perilaku performative male terkadang menunjukkan kecerdasan dan kepekaan ini secara berlebihan, hampir seperti sedang “memerankan” karakter tertentu supaya dianggap unik dan menarik oleh rekan kerja, bukan asli dari dirinya sendiri.
5. Mudah Terpengaruh Tren Sosial atau Gaya Hidup Kekinian
Mereka cepat menyesuaikan diri dengan tren terbaru di lingkungan profesional, seperti hobi atau aktivitas yang sedang digemari rekan kerja, hanya agar tidak terlihat ketinggalan zaman. Sikap ini menunjukkan usaha sadar untuk membentuk citra tertentu demi diterima atau dianggap relevan di lingkungan kerja.
Kesimpulan
Mengenali gejala performative male penting untuk menjaga lingkungan kerja yang autentik dan suportif. Sikap berlebihan dan pencitraan yang tidak tulus bisa menimbulkan ketegangan, menghambat kolaborasi, dan menurunkan kepercayaan antar rekan. Pemahaman dan komunikasi terbuka antar kolega menjadi kunci untuk menciptakan suasana kerja yang sehat, inklusif, dan produktif.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














