
NARASITODAY.COM – Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, menekankan pentingnya pola pikir yang tepat dalam pelaksanaan konservasi lingkungan oleh perusahaan pertambangan. Menurutnya, tanpa landasan pemikiran yang kuat, upaya pelestarian lingkungan tidak akan berjalan optimal.
Dalam forum MINDIALOGUE yang digelar Kamis (28/8/2025), Hanif menyampaikan bahwa konservasi lingkungan seharusnya menjadi bagian dari visi utama perusahaan, bukan sekadar respons terhadap mandat atau keluhan eksternal.
“Pada saat mindset itu tidak dibenamkan pada tingkat pertama, maka operasionalnya tentu akan mendahulukan kemudian cara-cara lain,” ujarnya.
Hanif juga menyoroti perlunya Indonesia mengembangkan sistem ekonomi yang berlandaskan wawasan lingkungan. Ia menilai pendekatan tersebut akan mendorong pelaku usaha untuk lebih memperhatikan aspek keberlanjutan dalam aktivitas bisnis mereka.
Lebih lanjut, Hanif menegaskan bahwa program hilirisasi di sektor pertambangan harus selaras dengan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. Ia menyebutkan, tantangan utama dalam proyek hilirisasi adalah menjaga keseimbangan antara proses industri dan keberlanjutan ekosistem.
Dalam kunjungannya ke sejumlah kawasan industri pertambangan, Hanif menemukan bahwa pengelola kawasan umumnya telah mematuhi regulasi lingkungan yang ditetapkan pemerintah. Namun, ia mencatat bahwa kepatuhan tersebut belum sepenuhnya tercermin di sektor hulu.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penilaian menyeluruh terhadap aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan, mulai dari tahap hulu, intermediate, hingga hilir.
“Sehingga, (kami) melakukan assessment di dalam konteks hilirisasi, mulai dari raw materialnya, kemudian prosesnya, kemudian pengangkutannya, kemudian penggunaannya, dan pasca penggunaannya ini menjadi suatu hal yang penting,” pungkas Hanif.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













