NARASITODAY, WASHINGTON – Petani kedelai di Amerika Serikat menghadapi tekanan berat menjelang musim panen 2025. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perdagangan, China pembeli utama kedelai AS tidak melakukan satu pun pemesanan. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan sektor pertanian dan dampaknya terhadap ekonomi nasional.
Caleb Ragland, petani asal Kentucky sekaligus Presiden American Soybean Association, menyebut situasi ini sebagai “sangat genting.” Dalam wawancara dengan CNN, ia menegaskan:
“China membeli lebih banyak kedelai kita daripada seluruh pembeli asing lainnya digabungkan.”
Biasanya, sekitar 25% produksi kedelai AS diserap oleh pasar China, dan seperempat dari penjualan tahunan sudah tercatat sebelum panen. Namun tahun ini, angka pemesanan dari China adalah nol.
Ketiadaan pesanan memperparah tekanan yang sudah ada. Harga kedelai kini turun 40% dibandingkan tiga tahun lalu, sementara biaya produksi dan bunga pinjaman meningkat. Harga kontrak berjangka untuk September hanya sekitar US$ 10,10 per bushel, sedangkan biaya produksinya diperkirakan mencapai US$ 11,03. Ragland mengaku mengalami kerugian hingga US$ 750.000 dan harus bergantung pada pinjaman untuk bertahan.
“Kami sedang menanam tanaman yang kemungkinan besar diproduksi dengan kerugian,” katanya.
Krisis ini tidak hanya menghantam 500.000 petani kedelai, tetapi juga mengancam efek berantai terhadap ekonomi AS. Sektor pertanian menyumbang 18,7% dari PDB nasional atau sekitar US$ 9,5 triliun per tahun, serta mendukung lebih dari satu juta lapangan kerja. Ekspor kedelai sendiri menopang lebih dari 231.000 pekerjaan di berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga logistik.
Ketegangan dagang antara AS dan China menjadi latar belakang krisis ini. Kedelai AS dikenai tarif balasan hingga 34%, membuatnya kalah bersaing dengan kedelai asal Brasil. Data menunjukkan bahwa China kini meningkatkan impor dari Brasil secara signifikan.
Pada Maret 2025, Brasil mengekspor 15,7 juta ton kedelai, dengan tiga perempatnya dikirim ke China. Pada tahun sebelumnya, 71% impor kedelai China berasal dari Brasil.
American Soybean Association telah mengirim surat resmi kepada Presiden Donald Trump, memperingatkan bahwa China telah mengamankan kontrak jangka panjang dengan Brasil untuk menghindari pembelian dari AS. Ragland, meski mendukung Trump, mendesak pemerintah segera menyelesaikan kesepakatan dagang.
“Kami sangat butuh solusi cepat. Kalau tidak, petani akan makin terpuruk,” ujarnya.
Dengan proyeksi panen mencapai 4,3 miliar bushel keenam terbesar dalam sejarah ketiadaan pasar China berpotensi menekan harga lebih dalam. Jika tidak ada terobosan sebelum panen, petani terancam menjual hasil panen dengan harga rendah atau menanggung biaya penyimpanan yang tinggi.
Ragland menutup pernyataannya dengan nada emosional:
“Kami adalah tulang punggung Amerika. Tapi kalau tidak ada tindakan cepat, kami tidak yakin bisa bertahan melalui masa-masa sulit ini”.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














