Meksiko Rencanakan Kenaikan Tarif Impor untuk Lindungi Industri Domestik

0
Tarif Impor
Ilustrasi bendera Meksiko.(Foto : Istock)

NARASITODAY.COM, MEXICO CITY – Meksiko mengumumkan rencana besar untuk menaikkan tarif impor terhadap mobil dari Tiongkok dan sejumlah negara Asia lainnya hingga 50%, dalam upaya melindungi sektor industri dan lapangan kerja domestik. Kebijakan ini, yang diumumkan pada Rabu (10/9/2025), mencerminkan perubahan signifikan dalam strategi perdagangan negara tersebut.

Menurut Kementerian Ekonomi Meksiko, tarif baru akan diterapkan secara bervariasi pada berbagai sektor seperti tekstil, baja, dan otomotif, dengan total nilai impor yang terdampak mencapai US$ 52 miliar. Menteri Ekonomi Marcelo Ebrard menjelaskan bahwa tarif mobil Tiongkok saat ini sebesar 20% akan dinaikkan ke batas maksimum yang diperbolehkan.

“Mereka sudah memiliki tarif,” ujarnya.

“Yang akan kami lakukan adalah menaikkannya ke tingkat maksimum yang diizinkan. Tanpa tingkat perlindungan tertentu, Anda hampir tidak bisa bersaing,” tambahnya.

Baca Juga :  Kecantikan Dandelion Ternyata Disertai 5 Manfaat Kesehatan yang Luar Biasa

Langkah ini, yang masih menunggu persetujuan Kongres, diklaim sesuai dengan ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pemerintah menekankan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mencegah masuknya produk asing dengan harga di bawah standar, yang dapat mengancam keberlangsungan industri lokal.

Menurut dokumen resmi, tarif akan dikenakan pada negara-negara yang tidak memiliki perjanjian dagang dengan Meksiko, termasuk China, Korea Selatan, India, Indonesia, Rusia, Thailand, dan Turki. Kebijakan ini diperkirakan akan memengaruhi sekitar 8,6% dari total impor dan melindungi sekitar 325.000 pekerjaan di sektor industri dan manufaktur.

Selain mobil, tarif sebesar 35% juga akan dikenakan pada baja, mainan, dan sepeda motor, sementara produk tekstil akan dikenai tarif antara 10% hingga 50%.

Baca Juga :  FDA Wajibkan Sertifikasi Impor untuk Udang dan Rempah Indonesia Mulai Oktober 2025

Kebijakan ini muncul di tengah tekanan dari Amerika Serikat agar negara-negara di Amerika Latin membatasi hubungan ekonomi dengan Tiongkok. Mariana Campero dari Program CSIS Amerika menyatakan, “AS tidak akan membiarkan Tiongkok menggunakan Meksiko sebagai pintu belakang.” Ia juga mencatat bahwa defisit perdagangan Meksiko dengan Tiongkok telah meningkat dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir, mencapai US$ 120 miliar pada tahun lalu.

Menariknya, Ebrard sebelumnya sempat menentang kebijakan tarif, dengan alasan bahwa hal tersebut dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi. Namun, perubahan sikap ini dinilai sebagai respons terhadap dinamika geopolitik dan tekanan dari mitra dagang utama, Amerika Serikat.

Gabriela Siller, analis dari Banco BASE, menyebut bahwa tarif ini kemungkinan akan meningkatkan permintaan kendaraan Tiongkok dalam jangka pendek. “Tarif pada negara-negara yang tidak memiliki perjanjian perdagangan dengan Meksiko memiliki dua tujuan,” ujarnya di media sosial. “Pertama, lebih banyak pendapatan dan kedua, agar terlihat baik di mata Trump.”

Baca Juga :  Dua Wakil Indonesia Siap Tempur di Semifinal China Open 2025!

John Price dari Americas Market Intelligence menilai bahwa Meksiko berusaha menyeimbangkan antara menjaga hubungan dengan AS dan mempertahankan kebijakan industrinya.

Meksiko berusaha menenangkan Amerika, tetapi juga melindungi kebijakan industri mereka yang telah berhasil bagi mereka selama 30 tahun terakhir,” katanya, merujuk pada rencana pemerintah untuk menambah tarif senilai US$ 3,76 miliar tahun depan.

Perjanjian perdagangan bebas antara Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada, yang telah melindungi Meksiko dari dampak tarif pemerintahan Presiden AS Donald Trump, dijadwalkan untuk ditinjau kembali tahun depan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber