KUALA LUMPUR — Uni Eropa secara resmi mengakui sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan Malaysia (Malaysian Sustainable Palm Oil/MSPO) sebagai standar keberlanjutan yang kredibel, dilengkapi dengan sistem ketertelusuran digital yang canggih. Pengakuan ini menjadi langkah penting dalam membantu pelaku industri minyak sawit Malaysia memenuhi ketentuan Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR).
Menurut laporan The Edge Malaysia, pengakuan tersebut diberikan menyusul kunjungan Komisioner Eropa untuk Lingkungan, Ketahanan Air, dan Ekonomi Sirkular yang Kompetitif, Jessika Roswall, ke Malaysia pekan lalu. Kunjungan itu memperkuat posisi MSPO sebagai kerangka kerja nasional untuk keberlanjutan minyak sawit.
MSPO, yang diaudit oleh lembaga sertifikasi independen, merupakan standar wajib yang mencakup seluruh rantai pasok minyak sawit mulai dari petani kecil hingga pengolah dan pedagang. Sertifikasi ini menekankan prinsip legalitas, transparansi, inklusivitas, dan akuntabilitas, serta diselaraskan dengan tuntutan pasar global.
Diperkenalkan pada tahun 2015, MSPO menetapkan batas waktu hingga 31 Desember 2019 untuk melarang pembukaan hutan demi sertifikasi, memastikan bahwa minyak sawit yang tersertifikasi bebas dari deforestasi dan diperoleh secara legal.
Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Datuk Seri Johari Abdul Ghani, menyambut baik pengakuan tersebut.
“MSPO memberikan jaminan legalitas, kepatuhan terhadap batas waktu, dan ketertelusuran digital, sekaligus memastikan bahwa lebih dari setengah juta petani kecil sepenuhnya menjadi bagian dari agenda keberlanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa Malaysia dapat memenuhi ekspektasi pasar global tanpa meninggalkan siapa pun,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, “Pengakuan Uni Eropa juga menggarisbawahi kredibilitas MSPO sebagai standar yang tepercaya dan siap menghadapi masa depan. Hal ini meyakinkan pembeli global bahwa minyak sawit Malaysia bersumber secara legal, dapat dilacak, dan berkelanjutan, berlandaskan pada mata pencaharian petani kecil dan didukung oleh kerangka kerja nasional yang wajib.”
Menjelang implementasi EUDR, Uni Eropa dan Malaysia sepakat untuk memperkuat kerja sama, guna memastikan para pelaku usaha yang memasok komoditas seperti minyak sawit, karet, kayu, dan kakao dapat memenuhi kewajiban mereka.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Jumat lalu, Jessika Roswall turut mengapresiasi langkah Malaysia dalam menurunkan tingkat deforestasi ke level terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia juga menegaskan komitmen Uni Eropa untuk mendukung berbagai inisiatif bersama, termasuk proyek-proyek yang bertujuan membantu petani kecil dalam menyediakan komoditas yang dapat ditelusuri dan berkelanjutan untuk pasar Eropa.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













