NARASITODAY.COM, ROMA – Di sebuah sudut dapur sempit di pinggiran kota yang jauh dari desing peluru Timur Tengah, seorang ibu mungkin akan segera menatap panci kosongnya dengan lebih cemas. Bukan karena perang sampai di depannya, tetapi karena harga minyak yang melambung di pasar global perlahan merampas kemampuannya membeli gandum.
World Food Programme (WFP) baru saja mengeluarkan peringatan keras yakini eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini berpotensi mendorong jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut ke level rekor pada tahun 2026. Analisis terbaru menunjukkan bahwa jika konflik menetap hingga pertengahan tahun dan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, sebanyak 45 juta orang tambahan terancam jatuh ke jurang kerawanan pangan akut.
Efek Domino dari Selat Hormuz
Meski krisis berpusat di jantung energi dunia dan bukan di lumbung pangan, WFP menekankan bahwa keterkaitan antara biaya energi dan isi piring masyarakat sangatlah erat. Gangguan di jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz dan Laut Merah telah memicu kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk.
Lonjakan ini bukan sekadar angka di bursa saham tapi ini adalah ancaman nyata bagi rantai pasok global. Dampaknya diprediksi akan menghantam wilayah yang paling rentan:
- Asia: Diperkirakan mengalami kenaikan kerawanan pangan sebesar 24%.
- Afrika Barat & Tengah: Berisiko naik 21%.
- Afrika Timur & Selatan: Terancam meningkat 17%.
Di Sudan, di mana 80% gandum bergantung pada impor, kenaikan harga ini langsung mencekik leher masyarakat. Sementara di Somalia, harga komoditas utama telah meroket 20%, memperparah kondisi warga yang sudah berjuang melawan kekeringan hebat.
Peringatan dari Garis Depan Kemanusiaan
Kondisi saat ini mengingatkan dunia pada awal perang Rusia-Ukraina tahun 2022 yang mencetak rekor 349 juta jiwa kelaparan. Bedanya, kali ini WFP harus beroperasi di tengah keterbatasan pendanaan yang signifikan.
Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menegaskan bahwa tanpa respons kemanusiaan yang cepat, dunia sedang berjalan menuju bencana.
“Jika konflik ini terus berlanjut, dampaknya akan mengguncang seluruh dunia, dan keluarga yang bahkan saat ini tidak mampu membeli makanan berikutnya akan menjadi yang paling terdampak,” ujar Skau, dikutip dari laman resmi WFP (21/3/2026).
“Tanpa respons kemanusiaan yang didanai secara memadai, kondisi ini bisa menjadi bencana bagi jutaan orang yang sudah berada di ambang krisis.”
Respons di Tengah Badai
Di tengah situasi yang semakin kompleks, WFP terus bergerak di lapangan. Di Lebanon, bantuan makanan menjangkau pengungsi hanya dalam hitungan jam setelah serangan udara pertama. Di Suriah dan Iran, program bantuan tunai terus diperluas untuk menjaga martabat keluarga yang tercerabut dari rumahnya.
Namun, keberlanjutan bantuan ini bergantung pada mata dunia. Dengan kemacetan ganda di koridor perdagangan maritim yang langka terjadi, tantangan musim tanam 2026 kini berada di depan mata akibat kelangkaan pupuk global. Jika dunia tidak segera bertindak, angka 318 juta orang yang saat ini menderita lapar akan membengkak, mengubah peringatan WFP menjadi kenyataan pahit bagi jutaan meja makan di seluruh planet ini.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














