
NARASITODAY.COM, FRANKFURT — Maskapai penerbangan Lufthansa diperkirakan akan mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawannya pada hari Senin, sebagai bagian dari upaya restrukturisasi besar-besaran. Langkah ini diambil menyusul kritik dari analis dan investor atas lambatnya perusahaan dalam memangkas biaya dan memperkuat bisnis inti.
Mengutip laporan Reuters, Lufthansa telah menerima dua peringatan laba sepanjang 2024 dan berkomitmen menjalankan program pemulihan ambisius. Sebagian PHK telah diumumkan pada Jumat sebelumnya.
“Semua ini juga mengharuskan kami untuk lebih ramping dalam hal administrasi karena kami tidak mampu mempertahankan pekerjaan kami dengan biaya yang kami miliki saat ini karena kami tidak memiliki margin untuk berinvestasi,” ujar CEO Carsten Spohr dalam pertemuan internal yang cuplikannya diperoleh Reuters.
“Dan dalam industri kami, tanpa teknologi modern, Anda tidak memiliki peluang,” tambahnya.
Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya karena sensitivitas isu, Lufthansa berencana memangkas staf administrasi hingga 20% dalam beberapa tahun ke depan. Namun, jumlah pasti PHK masih dalam tahap pembahasan. Redundansi ini diperkirakan akan berdampak pada seluruh grup, bukan hanya maskapai utama.
Di tengah proses pemulihan, Lufthansa masih menghadapi tantangan ketenagakerjaan, termasuk perselisihan terkait pensiun yang diperkirakan akan membayangi Hari Pasar Modal di Munich. Potensi pemogokan pilot juga belum sepenuhnya dikesampingkan.
Analis menilai Lufthansa masih harus membuktikan kemampuannya membangun struktur operasional yang lebih efisien. Dalam catatan yang dirilis menjelang Hari Pasar Modal, firma riset Bernstein menyebut:
“Meskipun memiliki lebih sedikit pesawat, dan bahkan lebih sedikit aktivitas penerbangan, dibandingkan tahun 2019, bisnis maskapai ini mempekerjakan 7% lebih banyak orang.”
Sebagian harapan pemulihan Lufthansa kini bertumpu pada dua unit operasional baru di Jerman: Discover dan City Airlines. Kontrak kerja di anak perusahaan ini dinilai lebih fleksibel dan hemat biaya dibandingkan perjanjian ketenagakerjaan Lufthansa Classic yang dianggap kaku dan mahal.
Eksekutif perusahaan menyebut bahwa fleksibilitas ini memungkinkan pemindahan sumber daya dari unit yang kurang menguntungkan ke opsi yang lebih efisien.
Meski langkah efisiensi telah dimulai, meyakinkan pemegang saham dan analis tetap menjadi tantangan tersendiri. Ruairi Cullinane, analis dari RBC, menyarankan agar Lufthansa fokus pada langkah konkret jangka pendek.
“Para analis juga dapat mencari jaminan bahwa Lufthansa masih berada di jalur yang tepat untuk mencapai proyeksi tahun 2025 untuk peningkatan signifikan dalam EBIT yang disesuaikan,” ujarnya kepada Reuters.
Lufthansa sendiri belum memberikan komentar resmi terkait rencana PHK maupun strategi pemulihan yang sedang dijalankan.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













