NARASITODAY.COM, DHAKA — Wabah demam berdarah (DBD) yang melanda Bangladesh semakin mengkhawatirkan. Hingga 6 Oktober 2025, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (DGHS) mencatat sebanyak 50.689 kasus infeksi dan 215 kematian akibat DBD di seluruh negeri. Lonjakan kasus mulai terjadi sejak September dan terus meningkat memasuki Oktober.
Profesor Kabirul Bashar, ahli entomologi dari Universitas Jahangirnagar, menyampaikan peringatan bahwa wabah ini berpotensi menjadi krisis nasional jika tidak segera ditangani secara terpadu. “Jika kita gagal bertindak sekarang, situasinya bisa menjadi tidak terkendali,” ujarnya kepada media lokal, seperti dikutip Reuters pada Kamis (9/10/2025).
Menurut Bashar, perubahan iklim dan curah hujan yang tidak menentu telah memperpanjang masa perkembangbiakan nyamuk. Ia juga menyoroti lemahnya upaya pengasapan serta keterlambatan pembersihan lingkungan oleh otoritas lokal selama libur panjang.
“Demam berdarah yang dulu hanya banyak di kota besar, kini menyebar ke daerah kecil dan pedesaan. Ini pertanda penyakit bisa menjadi endemik di seluruh negeri,” tambahnya.
Rumah sakit di berbagai kota dilaporkan mulai kewalahan menampung pasien. Pejabat kesehatan khawatir jumlah korban jiwa akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan jika tidak ada intervensi yang lebih agresif.
Situasi ini diperburuk oleh meningkatnya kasus chikungunya, penyakit lain yang juga ditularkan oleh nyamuk. Meski tidak sefatal DBD, chikungunya menyebabkan nyeri sendi parah dan kelemahan jangka panjang, terutama pada anak-anak dan lansia.
Sebagai perbandingan, tahun 2023 tercatat sebagai tahun paling mematikan dalam sejarah wabah DBD di Bangladesh, dengan 1.705 kematian dan lebih dari 321.000 kasus infeksi. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa langkah pencegahan yang tegas, Bangladesh berisiko mengalami siklus bencana serupa tahun ini.
Pemerintah dan lembaga kesehatan setempat kini dihadapkan pada tantangan besar untuk memperkuat sistem pengendalian vektor, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan mempercepat respons medis guna menekan angka kematian dan penyebaran penyakit.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














