NARASITODAY.COM, BANGKOK – Harga ekspor beras dari sejumlah negara Asia mengalami tekanan signifikan akibat lemahnya permintaan global, dengan Thailand mencatat penurunan harga terendah dalam hampir dua dekade.
Harga beras Thailand jenis 5% broken turun untuk minggu kelima berturut-turut, kini berada di kisaran US$335–340 per ton angka terendah sejak Oktober 2007. Sebelumnya, harga berada di level US$340 per ton. Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi eksportir dalam mengamankan kontrak besar di tengah permintaan yang lesu.
“Pelanggan hanya membeli sesuai kebutuhan,” ungkap seorang pedagang yang berbasis di Bangkok pada Kamis (16/10/2025), seraya menambahkan bahwa belum ada kesepakatan ekspor besar yang tercapai belakangan ini. Pedagang lain menyoroti melimpahnya pasokan di pasar sebagai faktor tambahan yang menekan harga.
Di India, harga beras jenis 5% broken parboiled tetap stabil di kisaran US$340–345 per ton, mendekati titik terendah sejak pertengahan 2016. Sementara itu, beras putih India dengan spesifikasi serupa dijual antara US$360–370 per ton.
Seorang pedagang di Mumbai menyebut bahwa permintaan dari kawasan Asia dan Afrika masih lemah karena banyak importir menunda pembelian, menunggu harga mencapai titik terendah.
Sementara itu, Vietnam juga mengalami penurunan harga beras. Menurut Asosiasi Pangan Vietnam (VFA), harga beras 5% broken turun ke US$420–435 per ton pada Kamis, dari sebelumnya US$440–465 per ton level terendah dalam hampir dua bulan. “Permintaan melemah, terutama setelah Filipina memperpanjang penangguhan impor beras,” ujar seorang pedagang di Ho Chi Minh City.
Ia menambahkan bahwa pemerintah telah mendorong eksportir untuk meningkatkan stok dan mencari pasar alternatif guna mengimbangi dampak kebijakan Filipina, “tetapi langkah itu belum cukup untuk menopang harga.”
Berbeda dengan tren penurunan di negara lain, Bangladesh justru mencatat kenaikan harga beras domestik sebesar 15% dalam setahun terakhir, meskipun hasil panen tergolong baik. Para pelaku pasar menyebut bahwa lonjakan harga dipicu oleh tingginya biaya input, praktik manipulasi oleh tengkulak, serta berbagai kendala dalam sistem penyimpanan, pengadaan, dan distribusi.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














