Ancaman Pemogokan Starbucks AS Jelang Musim Liburan Picu Kekhawatiran Industri

0
Starbucks
Ilustrasi Minuman Starbucks adalah perusahaan kedai kopi terbesar di dunia. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, Amerika Serikat – Barista Starbucks di AS yang telah membentuk serikat pekerja memberikan suara untuk mengesahkan pemogokan terbuka (strike) menjelang musim liburan, periode krusial dan padat pelanggan bagi raksasa kopi tersebut. Ancaman ini menjadi tantangan besar bagi Starbucks di tengah upayanya memulihkan penjualan yang tengah lesu.

Serikat pekerja Starbucks Workers United mengumumkan pada hari Rabu bahwa anggotanya siap melancarkan mogok jika kesepakatan kontrak yang adil tidak tercapai sebelum 13 November. Tanggal tersebut dikenal sebagai “Red Cup Day,” salah satu hari tersibuk bagi Starbucks dalam setahun. Pemogokan ini berpotensi terjadi di lebih dari 25 kota dan dapat meluas jika perundingan tidak menunjukkan kemajuan.

Baik pihak perusahaan maupun serikat saling menyalahkan atas terhentinya pembicaraan kontrak pada akhir tahun lalu, meskipun keduanya menyatakan kesiapan untuk kembali berdiskusi.

Baca Juga :  Cicipi Sensasi Liburan di 5 Kota Eropa yang Tetap Adem saat Cuaca Panas Melanda

Serikat pekerja, yang mewakili sekitar 9.500 barista setara dengan 4% dari total tenaga kerja kafe Starbucks telah terlibat dalam pembicaraan kontrak sejak tahun lalu. Serikat ini menuntut kontrak yang mencerminkan “peningkatan staf, gaji yang lebih baik, dan perlindungan di tempat kerja.” Ketegangan memuncak di mana serikat telah mengajukan lebih dari 1.000 tuntutan terhadap perusahaan ke Badan Hubungan Perburuhan Nasional (NLRB) atas dugaan praktik perburuhan yang tidak adil.

“Jika Starbucks terus stonewalling (menghalangi), mereka harus bersiap melihat bisnis mereka terhenti total. Bola ada di tangan Starbucks,” kata Eisen, dikutip Reuters, Kamis (6/11/2025).

Baca Juga :  Pemkab Bogor Luncurkan Program Sinergi Koperasi dan UMKM Untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal

Menanggapi ancaman tersebut, Starbucks bersikeras bahwa mereka telah menawarkan kondisi kerja yang terbaik di industri ritel.

“Setiap perjanjian perlu mencerminkan realitas bahwa Starbucks sudah menawarkan pekerjaan terbaik di ritel,” kata Starbucks dalam sebuah pernyataan.

Starbucks menyoroti paket tunjangan yang ditawarkannya, mencakup asuransi kesehatan, cuti orang tua, dan biaya kuliah online di Arizona State University bagi karyawan yang bekerja minimal 20 jam per minggu.

Konflik Kontrak Sebelumnya dan Tekanan Finansial

Pada bulan April sebelumnya, delegasi serikat pekerja telah menolak proposal kontrak dari Starbucks yang hanya menjamin kenaikan gaji tahunan minimal 2%, menilai proposal tersebut tidak membawa perubahan pada manfaat ekonomi mendasar seperti tunjangan kesehatan atau kenaikan gaji langsung.

Baca Juga :  Liburan Anak Anti Bosan dengan 5 Wisata Edukasi Terpopuler di Indonesia

Bahkan, pemegang saham Starbucks, termasuk Comptroller Kota New York, telah mengirim surat pada Oktober, mendesak manajemen perusahaan untuk segera melanjutkan pembicaraan dengan serikat pekerja.

Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi tekanan finansial, setelah mencatat penurunan penjualan selama enam kuartal sebelum 29 Oktober, dan hanya melaporkan pertumbuhan penjualan same-store 0% untuk toko di Amerika Utara dan 1% secara global.

CEO Brian Niccol sedang berupaya merombak operasi toko di AS untuk mendapatkan kembali pelanggan. Sebagai bagian dari upaya turnaround ini, Starbucks sebelumnya telah menutup lebih dari 600 toko pada bulan September, termasuk toko serikat unggulan di Seattle, dan mengurangi jumlah karyawan korporat.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com